Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Teratai

Serupa buah yang mengerut. Tubuhmu begitu ringan dan tampak rapuh. Daging yang membawa segar hilang terbawa sejumput penyesalan. Dekap hangat tak kuasa mengembalikan sadar akan rasa. Berkali-kali aku harus memastikan agar kau tidak tenggelam dalam kesenangan yang seyap. Bersanding diantara lipatan-lipatan waktu, didekapnya hangat kasih dan murka. Empat mata tak sanggup menjelma jembatan dan batin yang menjadi jendela. Berpuluh tahun bersama tak kuasa menjelma abdi. Getas. Sayup sayup terdengar sapa. Esok adalah nirwana, menyusup aroma narwastu yang menjabat relung tanya.

Dua titik menjadi

Dua titik di hamparan semesta
menarik marka
diantara
sehingga tercipta jeda
terukur jangka
dan masing-masing menjadi nyata

Dua titik di hamparan semesta
menarik tautan
direnggangan
sehingga tercipta simpulan
terdukung pagan
dan masing-masing menjadi bayan



Lelaki Berambut Kusut

tulisan yang ada di buku catatan jadul, sekitar 2 setengah taun yang lalu.
untuk seseorang :P

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Lelaki Berambut Kusut
Aku menemuimu lagi disini
Di antara lipatan- lipatan hari
Dan kalender yang tanggal

Kita pernah saling tahu
Rasanya sulit;

Merapihkan rambutmu
Yang tak lebih terjangkau
Dari peristiwa yang kusut

Kau biarkan segalanya mengepung
Kepala– terkadang aku purapura lugu

Dan kau melihatnya serupa
Serangga yang menggantung di puncak
Rambut yang takkan pernah bisa
Mematahkan rencana –
Salonsalon tak pernah teraba
Karena gunting di dalamnya
Mampu memotong rencana yang
Serupa kegaduhan

Meski kusut,
Mampu kubaca banyak peristiwa

lagi meloowuuwooowwww

Semua indah pada waktunya. Waktulah yang akan menjawabnya.

Kedua kalimat sakti. Seakan-akan waktu yang bekerja.

Bukankah waktu hanya dimensi. Salah satu variabel, bebas.

Yang melingkupi kita semua

Dan selalu berada pada tempatnya.


Kadang ingin aku menjadi partikel bebas

Yang tidak terikat apapun

Tapi aku sadar itu hanyalah omongkosong


-------------

Ketika berjalan aku ingin berlari

Ketika berlari aku ingin berhenti

Mungkin ada baiknya aku berhenti. Bukan untuk mundur.

Hanya berhenti.

Dan melihat pada jalur yang aku tempuh.

bahwa memang jalan itulah yang terbaik

Atau sekedar menarik nafas.

Memastikan semuanya baik-baik saja.

Dan bersiap untuk langkah berikutnya


Tidak ada yang dapat meyakinkanku

Kecuali dirisendiri dan keyakinanku

Tidak orangtuaku

Tidak sahabatku

Tidak pula para pemuka agama

Yang selalu berbicara mengenai kesesatan

dan menjadi hakim

Seolah dialah yang maha tahu segalanya



Lakukan saja

Aku percaya Tuhan yang sebenarbenarnya menyertaiku

Semua akan indah

Saat aku menjadikannya indah

proses

rasa-rasanya sudah beberapa kali merasakan seperti ini
yah setidaknya saya pernah merasakannya
mencoba kembali berharap tidak akan merasakannya kembali
dan dimulai

tenang sepi
riang
lalu bergemuruh
ada yang lepas
ada yang hilang
ada yang terserap
ada yang berputar seolah tanpa ujung

dan sayang
untuk kesekian kalinya
ternyata saya merasakan ini kembali
berputar-putar

saya tidak menyesalkan yang lepas
saya tidak menyesalkan yang hilang
dan terserap
terimakasih kuhaturkan
karena diperkenalkan kepada dunia

mungkin baik untuk saya
mungkin baik untuk yang lain
tapi maaf
saya hanya ingin kembali sepi
berubah karena saya ingin berubah
merasakan ketenangan diri
dan sendiri


aku dia dan mereka

hidup adalah perputaran nilai
pergeseran dari satu rasa ke rasa lain
melingkupi obyek dan obyek
melebur dalam subyek ke subyek

saat kita adalah subyek
pembenaran demi pembenaran
membiaskan nilai
kebenaran - kebaikan - kejahatan - kejujuran
kasih sayang - harapan - pengorbanan - kesetiaan
beragam nilai

perputaran
adalah gejala,
proses, dinamika
bukanlah sesuatu
yang ber-bentuk
ataupun sistem yang baku

hidup seperti cairan
ada saat membeku
mengalir
berputar

kita hanya bisa bertanya
dan mereka-reka
yang ada adalah
kita memang tiada
tidak berkuasa atas apapun
hanya berputar ..
mencair ..
membeku..
dan kosong

di mana kita ....
yang ada adalah jiwa
dan Pemiliknya

saat kita adalah perantara

saat kita adalah 'perantara'
seberapa penting kita memiliki
seberapa jauh arti memiliki
seberapa dalam perlunya rasa memiliki

jika kepedulian, kebutuhan, harapan ataupun kebanggaan
menjadi alasan untuk memiliki
seberapa lama akan bertahan
seberapa kuat kita sanggup memiliki
seberapa besar tanggung jawab kita

mampukah kekuatan benak mengatasi semua
tanpa terjebak pembenaran diri
yang seolah mampu
meredam hasrat memiliki
ataupun
meredam rasa takut akan kehilangan

dan kita adalah ‘perantara’
me-rasa memiliki tanpa belenggu kuasa rasa
'memiliki' tanpa memiliki