Paradoks Dalam Pilihan


Saya selama ini selalu berpikir kalo saya diberi pilihan tentu akan membuat saya lebih bahagia daripada saya disodori satu pilihan saja seperti yang saya tulis sebelumnya. Dengan memiliki pilihan kita dapat memilih mana yang lebih sesuai, mana yang lebih membuat saya nyaman, mana yang benar-benar saya inginkan.

Namun sebenarnya apa sih kebahagiaan itu?. Ternyata mungkin yang terjadi justru sebaliknya, dengan memiliki pilihan kita berada di titik dimana kita harus menilai, mengukur, membandingkan, dan justru yang paling sulit adalah pada akhirnya memilih itu sendiri. Kenapa? Karena dengan adanya pilihan, akan lahir ruang-ruang untuk keraguan, ruang-ruang penasaran, ruang-ruang untuk penyesalan atas pilihan yang diambil. Dan ruang-ruang tersebut bisa merenggut kebahagiaan. Terlepas dari nyata-tidaknya keraguan kita tersebut.

Hal ini mengingatkan saya pada penelitian David G. Myers dan Robert E. Lane dari Yale. Dalam melihat data pasar, keduanya menemukan bahwa meskipun produk domestik bruto meningkat dua kali lipat di Amerika Serikat selama periode 30-tahun, proporsi penduduk menggambarkan diri mereka sebagai "very happy" telah menurun sekitar 5 persen. Ini tidak terdengar seperti perubahan besar, namun penerjemahan menunjukkan signifikansi: ketika diberi pilihan yang lebih dalam hidup, 14 juta orang Amerika dilaporkan merasa kurang bahagia dibandingkan rekan-rekan mereka 30 tahun sebelumnya. Dan ini menarik mengingat saya pernah baca Indonesia dari Happy planet index bahwa Indonesia berada di peringkat 14 sebagai negara dengan penduduk yang bahagia setelah negara-negara amerika selatan. Sebagai perbandingan, amerika berada di urutan ke105.

Misalkan ada orang pertama diberi pilihan untuk memilih jeruk dan pisang pada saat haus kepanasan. Harus memilih. Dia mempertimbangkan bahwa jeruk akan lebih segar dilidah pada saat haus tersebut. Pas dicoba ternyata asamnya bukan main dan membuat perut melilit. Timbul penyesalan kenapa tidak memilih pisang saja. Lalu ada orang kedua yang harus mengambil jeruk, tidak ada pilihan lain. Rasanya asam dan perut melilit, namun mungkin tidak semenyesal orang yang pertama. Karena dia berpikir tidak ada pilihan lain dan memang sudah seharusnya begitu. Ini merupakan efek psikologis yang ditimbulkan dari kepuasan akan apa yang didapat. Yang pertama merasa telah salah memilih sedangkan yang kedua merasa ditakdirkan-bukan salahnya. Walaupun mungkin pada kenyataannya si pisang sebenarnya rasanya sepat atau bahkan mungkin beracun. Dan efek psikologis inilah yang memainkan ‘rasa’ bahagia. Suka atau tidak suka, si A memiliki kecendrungan untuk tidak bahagia daripada si B. Si A cemas ketika memilih dan mempertanyakan kembali pilihannya setelah memilih. Sedangkan si B hanya mengambil bagiannya, apa yang ada dihadapannya.

Hal ini menjadi masuk akal bahwa ibu-ibu biasanya senang ketika membeli sesuatu yang lagi diskon, terlepas dari memang membutuhkannya atau tidak, benar-benar senang atau hanya kepuasan semu atas pilihan yang disodorkan memang beda-beda tipis. 

Ada pilihan-pilihan yang dihadapkan pada kita yang membuat kita cemas terutama bahwa pilihan-pilihan tersebut memiliki kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Ketika memilih A saya akan senang karena blabla, tapi saya takut nanti blabla. Tapi kalau memilih B saya senang juga karena blabla tapi saya takut nantinya blabla. Kecemasan, ketakutan, ketidakrelaan untuk kehilangan. Sebut saja semua jalan yang mengarah pada keraguan.

Lalu kembali ke pertanyaan awal, jadi sebenarnya kebahagiaan itu apa? Jika adanya pilihan membuat saya tidak bahagia haruskah saya menutupi semua jalan akan pilihan yang terbuka untuk saya? Teman saya mungkin akan mengatakan apa yang saya lakukan adalah ‘menggalau’ atau yang lain menyarankan ‘yang pasti-pasti aja deh’. Tapi apa mau dikata kalau saya yakin bahwa cemas, takut, ragu hanyalah sebuah proses dan memilih adalah bentuk pendewasaan, maka hasil, tanggung jawab, dan konsekuensi adalah pembelajarannya.

Menutupi keraguan dengan keyakinan memang tidak mudah. Namun rasanya saya sudah berjalan sejauh dan saya siap untuk kehilangan sesuatu dan kembali menumbuhkan sesuatu yang lain, sesuatu yang telah saya pupuk sekian lama, sesuatu yang memberikan banyak pembelajaran untuk saya selama ini, termasuk apa yang saya tulis sekarang. Sesuatu yang tidak ternilai harganya.

Saya tidak ingin berhenti belajar. Bersama.

Saya meyakini bahwa kebahagiaan tidak sama dengan kepuasan. Kebahagiaan adalah keadaan umum dan tidak tergantung pada hal-hal materi sedangkan kepuasan adalah perasaan sesaat setelah memenuhi beberapa kebutuhan. Jadi saya akan tetap memberi pilihan masing-masing pada orang-orang disekitar saya, memberi kebahagiaan atau tidak adalah hal yang berbeda, tapi saya yakin itu akan memberi banyak pelajaran akan tanggung jawab dan konsekuensi, dan yang terpenting belajar menerima dan menjadi kuat dalam memilih karena pada dasarnya setiap hari kita akan mendapati banyak pilihan yang datang.

Dan sekarang tibalah saatnya untuk saya memilih. Apa yang akan terjadi maka terjadilah. Saya siap atas setiap konsekuensi dan mensyukurinya, dan quote dari Anthony Robbins akan selalu menguatkan saya;

“Focus on where you want to go, not on what you fear.”

Dan disinilah saya sekarang, bersiap untuk menjadi dewasa

Happy. Go. Lucky!!!

Seperti ayah saya selalu bilang bahwa kunci dari kebahagiaan adalah penerimaan. Jika saya tidak membuat pilihan, lalu siapa yang akan memilihkannya untuk saya? 

from both sides now


Bows and flows of angel hair
And ice cream castles in the air
And feather canyons everywhere
I've looked at clouds that way

But now they only block the sun
They rain and snow on everyone
So many things I would have done
But clouds got in my way

I've looked at clouds from both sides now
From up and down, and still somehow
It's cloud illusions I recall
I really don't know clouds at all

Moons and junes and ferris wheels
The dizzy dancing way you feel
As every fairy tale comes real
I've looked at love that way

But now it's just another show
You leave them laughing when you go
And if you care, don't let them know
Don't give yourself away

I've looked at love from both sides now
From give and take, and still somehow
It's love's illusions I recall
I really don't know love at all

Tears and fears and feeling proud
To say "I love you" right out loud
Dreams and schemes and circus crowds
I've looked at life that way

Oh but now old friends are acting strange
They shake their heads, they say I've changed
Well something's lost but something's gained
In living every day

I've looked at life from both sides now
From win and lose and still somehow
It's life's illusions I recall
I really don't know life at all

I've looked at life from both sides now
From up and down and still somehow
It's life's illusions I recall
I really don't know life at all

------------------------------------------------------------------


I will always remember the words of paulo coelho: Do not allow your wounds to transform you into someone you are not.

then everything will be fine.

Mau bilang apa


Hari ini saya mendapat limpahan tugas baru untuk memenej satu proyek kecil membuat gudang dengan material bekas. Material yang dipakai semuanya bahan sisa yang ada digudang. Proyek ini sebenarnya sudah seperempat jalan, bos saya mendelegasikan salah satu karyawannya untuk mengatur proyek namun karena tidak berjalan sesuai harapan akhirnya saya diminta untuk mengambil alih.

Saya coba mengobrol dengan beberapa tukang di proyek ini, mencoba mencari tau apa masalah sebenarnya di proyek ini. Terakhir saya tanyakan material penunjang apa saja yang kurang dan mendesak agar saya bisa beli dan memastikan proyek tetap berjalan. Setelah mencatat, lalu  bergegas mencari pinjaman motor. Biasanya saya tidak membeli sendiri tapi karena ini cukup mendesak akhirnya saya putuskan langsung beli sendiri saat itu.

Motor sudah didapat dan segera saya meluncur ke toko material di desa. Di depan pura perjalanan terhenti karena ada upacara. Ibu-ibu mengenakan kebaya panjang dengan sesajen diatas kepala, sedangkan bapak-bapak menggunakan setelan putih-putih adat bali lengkap dengan penutup kepala. Harum dupa menyeruak diantara rombongan. Disepanjang jalan beberapa turis sibuk memotret momen yang ada, mayoritas dari mereka menggunakan pakaian pantai yang serba terbuka. Bahkan salah satu dari mereka menggunakan bikini diatas sepeda. Pemandangan yang sangat kontras ini memang sudah biasa disini. Tanpa masing-masing merasa terganggu, semua melakukan aktivitasnya masing-masing.

Setelah rombongan lewat, motor melaju kencang menuju desa sampai ada binatang yang masuk ke mata saya, ya saya kelilipan! Gerakan cepat si motor atau si serangga atau akumulasi keduanya nampaknya membuat gesekan di mata cukup keras. Untung saya masih bisa menstabilkan motor yang berhenti mendadak. Sakit bukan main. Saya coba maju sebentar dan membeli air minum kemasan untuk mencuci muka dan mata saya. Setelah terasa lebih baik, perjalanan dimulai lagi menuju desa.

Yang saya pikirkan saat itu adalah bahwa kelilipan itu menarik bgt. Dari sekian banyak ruang di udara, saya atau tepatnya mata saya yang bergerak dengan kecepatan motor dan si serangga yang bergerak dengan kecepatannya sendiri, bisa bertemu di momen yang tepat, di bola mata saya! Coba kalau detik itu saya gerakan kepala saya sedikit, atau si serangga bergerak mereng sedikit mungkin kelilipan tidak akan terjadi dan ini menarik banget. Probabilitas yang ada tergantung pada banyaknya serangga yang ada disekitar mata pada suatu waktu tertentu dan jika saya menggunakan kacamata, kemungkinannya akan lebih kecil. Tapi tidak ada yang bisa menebak dan mengira kapan terjadinya kelilipan, itu seperti takdir. Sudah takdirnya si serangga berakhir di mata saya, dan sudah seharusnya mata saya merah membengkak sore itu. Tidak ada yang dapat mencegah kelilipan!

Sampai di toko ternyata tokonya baru aja tutup 5 menit yang lalu. Padahal itu satu-satunya toko yang menjual paku kapal. Ngenes. Kalau saja tidak ada upacara pada saat itu, atau kalau saja mata saya tidak kelilipan, mungkin saya kembali dengan material yang diperlukan dengan mata yang baik-baik saja. Apa mau dikata. Ya lagi –lagi, Takdir.

Kalau dipikir-pikir banyak takdir-takdir kecil yang kalau diakumulasikan menjadi sebuah rangkaian cerita yang bahkan kita sendiri tidak bisa menebaknya. Kita berusaha membuat rencana akan hidup kita, tidak selalu semuanya berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang tidak diprediksi, dan disitulah menariknya. Sepertinya saya harus lebih berhati-hati pada tiap-tiap keputusan kecil yang saya ambil karena tanpa disadari hal itu dapat membawa perubahan yang signifikan dalam hidup saya.

Menikmati Pekerjaan


Sehari semalam 24 jam = 8 jam untuk kerja + 8 jam untuk passion + 8 jam untuk tidur.

Orang bilang kalau mau cari kerja ya kerja yang sesuai passion. Saya sepakat dengan itu. Ujung-ujungnya orang pasti akan bekerja di bidang passionnya masing-masing, karena itulah bisa bertahan. Kalau ada yang menyinggung soal keterpaksaan itu hal lain. Tapi selama kita masih punya passion akan satu hal, selalu ada jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion kita itu. Lambat laun si passion akan mengarahkan kita ke suatu karir tertentu.

Setelah saya amati beberapa teman, banyak dari mereka melebur 8 jam bekerja+8jam passion dengan asumsi pekerjaannya adalah passionnya. Saya merupakan salah satunya. Saya senang ketika mendapatkan pekerjaan sampingan yang bisa diisi setelah jam kerja atau sekedar mengejar deadline kantor. Saya merasa tidak ada salahnya ketika saya menggunakan jam luar kantor saya untuk bekerja, toh saya tetap menikmatinya, dan yang penting adalah jam-jam luang saya tetap diisi hal yang produktif.

Namun sekarang saya merasa bahwa ini adalah habbit yang buruk. Ketika saya mengisi jam-jam saya dengan kegiatan atau hal yang sama dari pagi sampai malam, selama sebulan mungkin tidak jadi masalah, namun  lain ceritanya jika bulan berganti tahun, dan tahun demi tahun melakukan hal yang sama setiap harinya.

Selama ini saya pikir saya terlalu perfeksionis, kalau masih ada waktu saya pasti tetap mengerjakan kerjaan saya semaksimal saya bisa. Bukan soal berapa lamanya deadline, selalu ada alasan bagi saya bahwa pekerjaan saya belum maksimal, dan yang paling mengerikan adalah saya selalu mengatakan sanggup dan bisa atas semua tawaran yang datang ke saya, seolah seperti menantang diri sendiri. Saya selama ini pikir bahwa itu baik untuk saya. Push the limit! Tanpa disadari saya telah mengorbankan hal lain. Bisa dibayangkan gimana jadinya kalau habbit saya terus tertanam seperti ini sampai saya punya anak, dan bisa dibayangkan bagaimana sulitnya merubah kebiasaan buruk ini. Maaf dek, ibu sedang sibuk. sibuk, dan sibuk.. sana belajar ya..

Semakin saya bekerja semakin saya menyadari bahwa pekerjaan dan kemampuan kita sebenarnya bisa diukur. Itu tergantung dari mau apa tidak kita mendisiplinkan diri untuk memegang prinsip dalam bekerja. Bagi saya 8 jam untuk bekerja adalah cukup, lebih dari itu produktifitas menurun, selebihnya bagaimana kita membuat manajemen waktu dan berani untuk bilang tidak. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang bisa mengukur itu, dan pekerja yang baik adalah pekerja yang bisa mengukur dirinya sendiri. Jika perusahaan bergantung atas kemampuan pekerjanya dalam menekan diri mereka sendiri maka yang terjadi adalah titik kolaps dan hasilpun tidak dapat diprediksi.

Saya masih ingat kejadian yang menimpa pekerja 24 tahun di china yang meninggal karena bekerja lembur selama sebulan nonstop yang menurut hasil penelitian disebabkan oleh serangan jantung dan stroke akibat tekanan kerja. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa 1000 responden dari penelitian terkait ini menunjukan bahwa mereka pun cemas saat tidak mendapatkan tekanan apapun. Kebiasaan menjadi habbit dan habbit menjadi kebutuhan. Pada tahun 2006, kantor akuntan Ernst & Young melakukan studi internal karyawan dan menemukan bahwa untuk setiap 10 jam yang ditambahkan sebagai waktu libur mereka, kinerja dan produktifitas mereka meningkat 8 persen.

Pentingnya restorasi berakar dalam fisiologi kita. Manusia tidak dirancang untuk mengeluarkan energi secara terus menerus, sebaiknya kita ditakdirkan untuk menghabiskan dan memulihkan energy secara simultan. Saya sekarang siap jika perlu mengatakan, maaf saya tidak bisa bergabung dengan perusahaan anda karena kita memiliki prinsip yang berbeda.

M (Measurable), A (Attainable), R (Realistic), T (Timely).

Hidup bukan untuk bekerja. Saya yakin yang namanya rejeki bisa dicari, akan ngikutin. Justru kalau kita menikmati passion-passion kita yang beragam kita akan menjadi berbeda dari yang lain. Ketika diskusi kita bisa ngasih masukan-masukan yang segar dan berbeda, ngasih sudut pandang lain diluar kotak. Sama halnya dengan travelling. Itu membantu kita merefleksikan diri sekaligus melihat bagaimana orang lain berpikir. Jadi sisihkan waktu untuk melihat hal- hal lain yang berbeda, melakukan hal beragam, bertemu dengan orang-orang baru dan belajar dari mereka :)

Dan ini semua yang saya sebut dengan Menikmati Pekerjaan. 

Far Far



Untuk setiap anak yang terlahirkan bagaimanapun kondisinya,

Untuk setiap anak yang tak terlahirkan karena dua orang yang terlalu pengecut untuk menghadapi realita,

Untuk setiap anak yang dilahirkan oleh seorang ibu yang kelak menjadi panutannya,

Untuk setiap anak yang tidak memiliki role model ibu di hidupnya, yang karenanya tau bagaimana rasanya diabaikan, paham rasanya rindu akan pelukan seorang ibu, 

Lagu ini sangat bermakna bagi saya. Sangat.