Sistem Nilai

Aku sepakat dengan Ayu Utami mengenai sistem nilai. Aku tidak bisa hidup dengan sistem-sistem yang bentrok di dalam diriku. Begitu memindai ketidakcocokan dalam sistemku, alarm akan menyala dan sistemku akan mencoba memperbaikinya. Jika konflik tidak bisa diselaraskan, maka sistemku akan menonaktifkan salah satu yang dianggapnya tidak kompatibel. Aku membutuhkan apa yang kusebut “konsistensi sistemik” untuk bisa hidup ajeg. Kalau tidak, aku akan merasa kacau dan skizofrenik. Demikian. Aku tidak bisa tenang dengan berada di dua sistem dengan tata nilai yang berlawanan. 

Aku lupa kapan persisnya, namun bersamanya aku mendapatkan konsistensi itu. Semua naik turun namun aku merasa selaras, berjalan beriringan tanpa paksaan dan tanpa tuntutan. Jikapun ada kami berusaha untuk bertoleransi pada titik-titik tertentu. Kita muda, kita penuh semangat, kita mencari, kita tumbuh bersama. Sampai suatu ketika ada titik dimana aku mulai mempertanyakan semuanya. Apakah aku ini, apa yang aku tahu, aku merasa tidak tahu apa-apa, dan apa yang aku inginkan. Aku termasuk orang yang melihat ketakutan adalah suatu yang harus diperjelas, suatu yang harus dihadapi. Dan disanalah aku mencoba mempertanyakannya kembali. Sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya. Namun sepertinya semua sudah terlambat. Rasa keingintahuanku dan keinginanku untuk mempertanyakan ternyata berujung pada ketiadaaan. Sekarang aku tidak tenang, aku tidak nyaman.

Seperti zodiak yang ntah mengapa akhir-akhir ini aku percayai mengatakan bahwa seorang cancer tidak bisa jauh dari rumah. Dia akan kembali pada rumahnya, karena itulah yang membuatnya nyaman. Dia akan terikat pada sesuatu yang dianggapnya sebagai rumah. Itulah jawaban dari segala pertanyaan yang membuat aku resah selama ini. Aku harus pulang. Apapun yang aku dapat tidak ada artinya lagi tanpa dibagi dengan rumahku. Seorang Cancer bukanlah seorang petualang sejati. Dia anak rumahan.

Namun sekarang aku tidak tahu kemana aku harus pulang. Siapa yang dapat aku percaya. Bahkan aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri. Aku tidak merasa perlu merubah sistem nilai yang telah aku bangun selama ini untuk mendapat ketenangan seperti kebanyakan orang yang ada pada posisi takut dan terluka, baik itu tata nilai yang ada di sosial, budaya, maupun agama. Tidak ada atheis di kandang macan. Lingkungan menuntutku, namun aku tidak tenang berada dalam sistem nilai yang saling berlawanan pada diriku. Aku mungkin menjauhi agama dalam proses pencarianku. Namun disisi lain aku sangat menghargai agama. Aku sangat menghargai aturan mainnya. Tidak mugkin aku dapat menerima sesuatu setengah-setengah ketika ada alarm dalam diriku menyala tidak kompatibel dengan berbagai aturan mainnya. 

Setiap hari sebelum tidur aku membisikkan, aku sangat percaya jika tuhan itu ada, namun jika agama itu adalah suatu kebenaran, berikan aku jalan untuk memahaminya. Jalan yang indah, bukan sebagai pelarian atau dogmatis dari sekitar. Jadi sesungguhnya yang kulakukan adalah mengkomunikasikan diriku sendiri. Zaman dahulu kala, pemimpin gereja mengucilkan atau mengekskomunikasi orang-orang yang dianggap menjalani praktik hidup yang salah. Nah, yang kulakukan adalah itu terhadap diriku sendiri. Sebab aku tahu aku manjalani praktik yang salah menurut aturan main mereka. Jadi, sesungguhnya aku menghormati aturan main mereka. Aku tidak bisa menerima sesuatu setengah-setengah. Tidak bisa aku menerima bahwa jika aku muslim, aku shalat namun tidak menutup auratku. Atau jika aku menikah dalam islam namun aku tidak setuju dengan poligami. Mungkin orang lain bisa, tapi aku tidak. Ketidakkonsistenan membuatku tidak nyaman.

Dan disinilah aku saat ini, seorang teman sangat sedih setelah membaca blogku diam-diam soal agama dan mengontakku karena itu. Dia menganggap apa yang aku lakukan adalah kemunduran, kembali mempertanyakan sesuatu yang telah ditanyakan oleh orang-orang terdahulu. Dia mencoba menunjukan kepadaku mengapa dia percaya, dari halus sampai perdebatan sengit, namun tetap alarm ketidakkonsistenan pada diriku menyala. Namun aku percaya setiap orang punya jalannya masing-masing dan ini adalah perkara hati. Terlepas dari hubungan manusia yang juga diatur oleh agama, tapi ini adalah urusan kita dan tuhan. Tidak ada campur tangan manusia yang bisa membukakan jalan ini, terlebih dengan tendensi pengiringnya, jika kita mau berpikir. 

Aku membaca sejarah-sejarah agama dan kerap membaca tafsir quran oleh-oleh dari paman sepulang dari haji yang aku bawa ke bali dalam perjelananku pertama kali. Aku mencoba memahami benang merah dari sistem nilai yang aku anut dengan sistem nilai yang ada di dalamnya. Aku percaya setiap orang punya jalannya masing-masing.

Karya Manual vs Digital


Beberapa hari yang lalu saya dan dua orang teman mendiskusikan mengenai perkembangan seni yang didukung oleh perkembangan teknologi. Poin pembicaraannya adalah mengenai mulai tergesernya metode-metode manual yang menggunakan tangan tanpa komputerisasi menjadi menggunakan bantuan teknologi komputerisasi. Apakah ini sesuatu yang salah? Atau justru kemajuan? Atau bernilai sama dengan, yaitu hanya saling menggantikan?

Untuk menjelaskan pendapat saya, saya mulai dengan pengalaman saya ketika masuk ke jurusan arsitektur. Bisa dibilang saat itulah saya mulai belajar menggambar. Sebelumnya boro-boro saya bisa menggambar, tertarik pun tidak. Masuk ke jurusan ini seperti salah alamat, yang saya pikirkan sebelumnya teknik arsitektur itu adalah teknik sipil. Akhirnya mau tidak mau saya harus melakoninya juga, apalagi di tingkat pertama hampir semua mata kuliah berasal dari jurusan seni rupa yaitu mata kuliah gambar 1, gambar 2, nirmana 2D dan nirmana 3D yang semuanya manual menggunakan tangan. Awalnya tentu saya stres melihat teknik dan kemampuan teman-teman yang lain yang sepertinya memang mayoritas sudah memiliki kemampuan dasar disitu. Tapi ternyata hasilnya mengejutkan, gambar 1 saya mendapat nilai B, seiring saya belajar dan mengamati teman-teman yang lain, akhirnya gambar 2 saya mendapat nilai A, begitupun dengan nirmana 2D dan 3D saya mendapat nilai A di keduanya, bahkan pada beberapa tugas nirmana saya mendapat nilai 100. Saya kaget dan bersyukur bukan main karena saya tidak pernah merasa memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut sebelumnya, ketika sekolah saya sangat menyukai pelajaran eksak dan tidak tertarik dengan seni sama sekali. 

Naik ke tingkat dua dan tiga, mulai masuk ke desain arsitektur termasuk membuat maketnya. Baik gambar maupun maket dikerjakan harus dengan manual. Saya mendapati diri saya sangat menikmatinya setiap prosesnya, bahkan ketika pacar saya saat itu berniat membantu, ada ketidakrelaan tersendiri karena meskipun hasilnya lebih baik atau lebih buruk akan memberi perbedaan karakter dalam setiap tarikan garisnya :D

Berbeda ketika masuk ke tingkat 4 dimana semua gambar harus menggunakan program komputer. Saya memang masih menikmatinya karena di tingkat ini desain menjadi lebih kompleks dan semakin seru, namun ada sesuatu yang hilang, dengan menggunakan komputer, saya tidak masalah jika teman saya mau membantu. Gambar menjadi hanya media untuk menyampaikan gagasan-gagasan desain arsitektur kita, tidak lebih. Saya tidak dapat menilainya sebagaimana saya menilai gambar manual.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya mendapati bahwa perbedaannya antara membuat gambar manual dan komputerisasi adalah dalam gambar manual saya dapat melampiaskan emosi, ketekunan, detail, dan kepekaan saya. Contohnya ketika membuat garis atau arsir dengan pensil. Disana saya merasa dituntut untuk menorehkan setiap garis dengan perasaan. Berbeda dengan menggunakan program computer yang saya dengan mudah bisa menset ketebalan, efek pensil dll dengan cepat. Pada intinya sama-sama menggunakan tangan, namun yang satu menuntut kepekaan motorik dan emosi yang lebih. Contoh lainnya bermain bowling atau golf secara langsung pasti akan berbeda dengan bermain melalui computer. Sama-sama menggunakan tangan, sama-sama memiliki target, sama-sama memerlukan kestabilan emosi ketika menarik tangan, namun ADA IKATAN EMOSIONAL YANG BERBEDA.

Selain karena tidak dapat digandakan, karena alasan itulah sesuatu yang handmade akan dinilai lebih daripada hasil komputerisasi/digital. Saya tidak suka menilai sebuah karya dengan angka, namun jika angka bisa menjadi bahasa sebagai tolak ukur yang dapat dimengerti semua orang, maka tidak heran handmade selalu lebih mahal.

Kembali ke pernyataan awal mengenai baik/tidaknya pergeseran dari manual ke komputerisasi, saya tetap mengatakan bahwa ini kemajuan. Memang ada nilai-nilai yang hilang dari sebuah produk karya tersebut, namun sebuah karya akan menjadi karya sesuai dengan kegunaan dan tujuan dibuatnya. Jika pengrajin batik tidak menemukan teknik cetak, mungkin batik hanya dapat dinikmati kalangan tertentu saja. Jika tidak ada program autocad, 3d max dan program-program desain lainnya, mungkin perkembangan arsitektur dan desain lainnya tidak akan secepat sekarang.

Jadi sah-sah saja mendesain menggunakan manual ataupun komputerisasi karena ini kembali ke tujuan awal karya tersebut dibuat. Kalau saya, karena saya menikmati membuat sesuatu dengan manual dimana ada ikatan batin yang lebih ketika karya tersebut selesai, maka selagi ada waktu luang saya akan gunakan untuk membuat sesuatu dengan tangan saya. Saya bercita-cita jika nanti memiliki rumah sendiri, saya ingin setiap sudut rumah diisi dengan sentuhan tangan-tangan anggota rumah, Saya, suami dan anak-anak saya. Baik secara manual, digital, maupun campuran keduanya. Do it ourself, jika bisa buat sendiri kenapa harus beli? ;) dan pasti ada nilai lebih yang menjadikan rumah bukan hanya sekedar rumah, tetapi media ekspresi dari masing-masing karakter orang yang ada di dalamnya.

Love :)

"Love's for a lifetime not for a moment 
So how could I throw it away 
Yeah I'm only human 
And nights grow colder 
With no-one to love me that way 
Yeah I need someone who really sees me..."

Kota Metropolitan


Jakarta-jakarta.. selama ini saya hanya mendengar tentang kamu dari teman-teman dan media. Tanpa sadar saya menangis ketika membaca ini dan disini versi terjemahannya 

Dulu waktu saya masih kuliah saya sempat menulis impian saya begini:

Di umur 30 tahun saya ingin menjadi arsitek dan ibu rumah tangga muda yang memiliki anak lucu dan tidak takut mengenai apa yang ditonton mereka di TV. Saya menemani anak saya yang tumbuh jadi anak yang sehat bermain di taman kota. Dengan perencanaan dan pembangunan kota yang sangat diperhatikan oleh walikota yang saat itu adalah seorang arsitek kakak senior saya;p, udara berangsur membaik, kadar timbal berkurang, Ruang terbuka hijau yang tersisa dijaga dengan baik, dan ruang2 terbuka publik yang merupakan suatu instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial yang ada banyak dibangun (ps: ruang publik bukan mall lho..tapi ruang dimana jarak perbedaan ruang sosial yang ada terkikis. Misal taman kota dimana orang yang berlaptop dapat duduk bersebelahan dengan tuna wisma). 

Di umur 40 tahun saya mengantar anak saya ke sekolah menggunakan trem kota. Dengan walikota yang telah memimpin 10 tahun saat itu, kota kami berkembang menjadi kota kompak dengan pemusatan pusat keramaian dan pemukiman yang terencana termasuk pemukiman menengah kebawah yang terintegrasi dengan pola transportasi massal yang baik. Sehingga orang2 mulai meninggalkan kendaraan pribadi dalam kota layaknya di tokyo. Dan warga negara kita tidak harus membuang2 energi percuma, baik tenaga, bensin, dan waktu.

Di umur 50 tahun, saya bersama teman2 satu geng yang seprofesi..hehe..telah menyumbang pembangunan rumah2 susun untuk masyarakat terutama kawasan pemulung. Saat itu saya melihat seorang presiden melakukan pidato terbuka di depan gedung merdeka yang pada masa itu telah disulap menjadi ruang terbuka publik (layaknya washington mall) sehingga pada masa itu masyarakat dengan mudah menyampaikan opini dan harapan terhadap kepala negara di negara Indonesia yang menjunjung demokrasi, ga ada cerita lagi demo yang anarkis. Presiden berpidato dgn disambut dukungan rakyatnya yang telah melihat bagaimana demokrasi, persamaan hak, dan kemandirian bangsa baik energi, ekonomi, dan pangan dijunjung dan menjadi fokus utama pada pemerintahannya. Pada masa ini udah ga jaman lagi korup. KPK jadi instansi bersih yg paling ditakuti,,huuuoooo...itu impian..

mmmhh..yah, impian..Impian ini ga mungkin terwujud kalo kita berjalan sendiri2..jadi saya membutuhkan bantuan kalian semuaaaaaaaaa....yang saya yakin memiliki mimpi besar dan harapan besar.

-------------------

Hhmm membangun kota sepertinya memang tidak mudah ya, kompleks sekali dengan banyak variabel dan bermacam-macam karakter yang masing-masing memiliki keinginan masing-masing, kepentingan masing-masing, untuk masa depan masing-masing. Ya masing-masing, terlebih dari tidak adanya ruang-ruang publik yang disediakan dan kategorisasi ini menjadi semakin menguat, memisahkan diri dari yang satu ke yang lain.

Saya lahir dan dibesarkan di Bandung lalu sekarang tinggal di pulau kecil-kampung. Saya belum pernah merasakan tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta jadi saya tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya tinggal di tempat seperti itu, semoga beberapa bulan kedepan saya mendapat kesempatan itu. Melihat dan merasakannya sendiri.

Beberapa hari di Jakarta kemarin saya merasakan hal yang sama ketika di Paris. Muka-muka lelah dan sibuk ketika pergi atau perjalanan pulang dari kantor. Orang-orang bergegas mengejar busway. Teman saya bercerita jika jadwal busway tidak menentu, sehingga orang harus berlari kalau tidak ntah kapan dapat busway berikutnya. Di Paris, jadwal metro pasti, dan berselang hanya beberapa menit dari satu kloter ke kloter berikutnya namun tetap saja orang-orang bukan hanya bergegas, tapi berlari. Sampai-sampai saya tanya ke teman saya kenapa orang-orang pada berlari seperti kesetanan, dan dia jawab mengejar metro, lalu saya tanya kapan metro berikutnya dan dia jawab 3-5 menit lagi. Sigh.

Orang-orang keluar masuk metro dan tampak sangat modis, kebetulan saat itu winter. Boots, scarf, dan coat membuat semua orang tampak seperti model. Yang saya perhatikan ntah kenapa pada saat itu banyak sekali yang menggunakan setelan berwarna hitam-hitam, mungkin hanya kebetulan. Di metro semua orang diam dan sibuk dengan lamunannya masing-masing. Satu anak muda di depan saya membuat sketsa dan teman disebelahnya sibuk dengan ipod-nya. Tiap orang menyiratkan tatapan dingin. Inilah parisian pikir saya dalam hati, sebutan bagi orang-orang dari paris. Teman-teman saya dari prancis mengatakan kalau Parisian itu dikenal songong dan belagu ketika berbicara dengan orang prancis dari kota lain. Mungkin ini agak mirip dengan pandangan orang luar Jakarta ke orang Jakarta ketika pertamakali bertemu sebelum mengenal jauh. Seorang pengamen masuk lalu memainkan biola sehingga membuyarkan lamunan saya. Saya melongok, dia tampak sangat bugar dengan setelan olahraga adidas. Alunan musik jazz yang dia mainkan sangat indah, dia tersenyum ke arah saya ketika sadar saya memperhatikannya dengan seksama.

Di sepanjang jembatan penyebrangan di Jakarta menuju stasiun busway tampak beberapa pengemis duduk dengan wajah menyiratkan harapan atas kepeduliaan orang yang lewat terhadap kondisinya. Begitu pula stasiun-stasiun di Paris, saya menemukan banyak pengemis disana. Suatu kali saya mendapati seorang wanita muda berusia sekitar 25 tahun duduk di tangga stasiun dengan membawa kertas yang bertuliskan dalam bahasa prancis yang artinya “saya lapar. 1 euro anda akan sangat berarti untuk saya”. Saya cukup kaget, selama ini saya seringkali melihat pengemis di Indonesia namun tidak pernah melihat wanita muda yang nampak biasa saja (tanpa terlihat kucel atau lusuh sehingga membuat orang simpatik) duduk meminta. Benar-benar pemandangan yang sangat janggal buat saya.

Namun yang berbeda adalah di Paris banyak sekali ruang-ruang publik seperti taman-taman kota. Di hampir setiap distrik terdapat masing-masing taman kota cantik yang dipenuhi orang-orang. Di tempat ini tua muda, semua membaur. Di sepanjang kanal dimana sungai menjadi waterfront (bukan menjadi area belakang seperti di Indonesia sehingga malah jadi tempat pembuangan), banyak sekali pasangan yang bergandengan. Tidak heran kota ini disebut kota romantis, ntah bagaimana arsitektur bangunan, lampu-lampu jalan, kanal, semuanya menyiratkan keindahan dan harus saya akui memang romantis. Sepasang kakek nenek duduk berpelukan di taman sembari melihat kearah sungai. Pandangan-pandangan dingin ketika di metro seketika lenyap. Orang-orang tersenyum ke arah saya dan melanjutkan aktivitas masing-masing tanpa merasa terganggu. Skala kota Paris cukup besar. Bangunan-bangunan tinggi menjulang dan jarak dari satu lokasi ke lokasi lain cukup jauh. Namun dengan sistem metro yang baik, signage yang jelas, dan pedestrian yang baik, saya tidak merasakan rasa intimidasi seperti yang saya rasakan di Jakarta yang ketika turun dari trem dan hendak mencapai bangunan tertentu, saya harus berjalan melipir dan berhati-hati, naik turun pedestrian yang tidak terkoneksi dengan baik – mengurangi keasikan dalam menikmati kota itu sendiri.

Lalu saya mengunjungi toko loak yang ada di sepanjang sungai (lupa namanya), mengingatkan saya di salah satu adegan midnight in Paris dengan setting yang sama. Saya asik melihat-lihat buku dan lukisan jalanan disana sampai saya teringat akan pasar loak di Cikapundung. Tempat buku-buku dan majalah bekas, tukang kunci serep dengan kios-kios di sepanjang sungai cikapundung. Paris van Java. Ada miripnya walaupun beda banget hehe..

Lain halnya dengan Amsterdam. Saya waktu itu menaiki bus menuju Amsterdam dari Paris. Pas setengah tertidur karena menggunakan bis malam saya mendengar beberapa orang berbicara bahasa Indonesia, ahahah ternyata di bis itu banyak orang Indonesianya, setelah saya perhatikan ternyata sepertiganya orang Indonesia. Menarik banget, saya sempat mengobrol tapi rasa lelah dan kantuk membuat saya tidak sempat mengobrol banyak dengan mereka. Kota ini menjadi kota favorit saya. Kota dimana saya datang dalam cuaca 3 derajat dan diguyur hujan selama beberapa hari disana. Namun saya benar-benar menikmatinya! Ntah bagaimana kota ini memberi spirit tersendiri. Selama beberapa hari disana saya berjalan, bersepeda, melihat penjuru kota pagi-siang-malam, dinginnya winter menjadi tidak terasa lagi, saya sungguh menikmati kota ini!

Lalu lintas di kota ini sangat gila. metro, bus, mobil, motor dan sepeda saling memotong, terutama pengendara sepeda-sepeda yang ternyata sangat liar. Namun yang saya lihat orang-orang disana nampak sangat bahagia, kotanya sangat hidup! Skala kota Amsterdam yang kecil cukup untuk membawa sepeda berkeliling. Tampak segerombolan anak muda dengan sepedanya sambil ketawa kegirangan padahal lagi hujan atau beberapa keluarga yang bermain di taman kota, atau seorang ibu hendak menyebrang membawa kereta bayi yang pake penutup dibawah hujan rintik cukup untuk membuat saya ikut tersenyum, bagaimana tidak kalau di Indonesia lagi hujan kaya begitu, ditambah dinginnya winter, pasti anak-anak disuruh masuk rumah biar ga sakit. Kalau perlu keluar apalagi membawa anak kecil sebisa mungkin bawa kendaraan sendiri. Tapi ini enggak, semua terlihat sangat menikmati kotanya. Mereka saling tersenyum dan sangat welcome.  

Ada kejadian lucu lagi soal orang Indonesia, ketika saya berjalan tiba-tiba terdengar teriakan..”satu..dua..tiga..” glek ternyata beberapa orang Indonesia sedang berfoto. Begitu ramainya ruang luar di kota ini. Tiap sudut kota diisi orang-orang yang berjalan, bersepeda, bermain skate-board, nongkrong, berjualan, mengamen, berfoto. Aaahh saya benar-benar jatuh cinta dengan kota ini, semua terasa sangat kasual dan humanis tidak kaku seperti di Paris. Setiap kali bertanya atau mengobrol dengan seseorang baik sekadar saling menyapa di cafe atau di tempat pelayanan publik, saya selalu mendapati orang-orang ramah dan antusias. Kym teman kantor saya pernah bercerita kalau Belanda terutama Amsterdam adalah kota yang sangat bebas, intinya mau melakukan apa aja boleh asal tidak melanggar kebebasan orang lain, tidak heran misal homoseksual atau konsumsi ganja dibebaskan di sini, dan somehow orang-orang disana free spirited. 

Setelah Amsterdam, kota besar yang saya datangi juga adalah Barcelona. Mirip-mirip seperti di Paris dengan skala kota yang luas dan jarak dari satu lokasi ke lokasi lain jauh, namun yang berbeda orang-orangnya lebih ekspresif. Selain ekspresif juga agak sedikit kasar. Pengalaman beberapa kali di tempat pelayanan publik, mereka nampak tidak seramah di Amsterdam, tapi tidak kaku seperti di Paris. Teman saya dari Barcelona yang menjadi tour guide saya saat itu bercerita bahwa orang Catalan seperti di Barcelona ini memang berbeda dari kota di Spanyol lain, selain bahasanya memang agak berbeda mereka juga agak sedikit kasar. Suatu kali saya mengunjungi bar kecil disana, yang menjaga adalah sepasang suami istri. Selama saya disana tak hentinya mereka bertengkar dengan kencang sampe seantero bar bisa mendengarnya, saya tidak yakin apakah itu memang bertengkar ataukah memang begitu cara mereka berkomunikasi karena pengunjung lain nampak biasa saja. Tak sampai disana, beberapa orang seumuran kakek saya masuk dan memesan bir. Cukup lama setelah itu tiba-tiba mereka mulai menyanyi seriosa bersama kenceng banget. Semua orang tertawa dan memberi salam dengan gelasnya. Cheers atau salut! Orang-orang berteriak dan ikut bernyanyi.

Setelah keluar dari bar saya berjalan di plaza catalunya, sekelompok pengamen mulai memainkan musik. Orang-orang mulai mengelilinginya. Beberapa orang ikut menari ketika lewat, beberapa menari di atas tangga, dan yang paling membuat saya terkesan adalah ada dua orang tunawisma tampak berdiri dari tempatnya duduk dan ikut menari, kejadian itu berlangsung terus sampai beberapa lagu yang pengamen itu mainkan berhenti. Menarik. Begitu mudahnya ruang-ruang komunikasi itu terbuka bagi orang yang bahkan tidak saling mengenal. Bahkan tidak perlu dengan kata. Hanya dengan musik dan semua seperti terlepas dari jarak dan kekakuan. Saya tidak perlu mengenal mereka siapa, darimana, namun kita berbaur bersama secara alamiah. Inilah ruang publik saya pikir. Melepaskan latar belakang dan status sosial, dan hanya berbagi tempat dan waktu. Berbagi momen. Tanpa perlu ada event organizer atau acara khusus.

Orang bilang kalau orang Indonesia adalah masyarakat yang ramah, yang berbudaya gotong royong. Saya tidak menyangsikan itu, sayangnya bentukan kota-kota yang ada tidak memfasilitasi potensi itu, bahkan yang ada adalah membuat jarak satu dan yang lain semakin melebar. Perbedaan status sosial semakin ditunjukan. Namun seperti sebuah prase 'Knowing is half the battle'. Setidaknya sekarang mulai banyak orang-orang yang mengerti dan mau peduli. Orang-orang yang tau masalah dan mau menyelesaikan, dan masyarakat yang mau turut berkontribusi.

Seperti impian yang saya tulis dulu “Saya menemani anak saya yang tumbuh jadi anak yang sehat bermain di taman kota. Dengan perencanaan dan pembangunan kota yang sangat diperhatikan oleh walikota yang saat itu adalah seorang arsitek kakak senior saya;p, udara berangsur membaik, kadar timbal berkurang, Ruang terbuka hijau yang tersisa dijaga dengan baik, dan ruang2 terbuka publik yang merupakan suatu instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial yang ada banyak dibangun”.

Solusi bagi suatu kota memang tidak bisa sama dengan solusi di kota lain karena ini sangat kontekstual. Sifat/karakter dan kebutuhan warga maupun geografisnya pun berbeda, namun saya tetap meyakini ruang-ruang publik adalah suatu keharusan. Nanti-nanti kalau mau janjian dengan teman di Jakarta tidak perlu di mall lagi. Pak Emil yang sekarang baru terpilih menjadi walikota Bandung sekaligus arsitek senior saya menjadi salah satu harapan untuk mewujudkan ini di Bandung dan semoga berefek ke seluruh kota di Indonesia. Dia tidak bisa bekerja tanpa dukungan partisipatif masyarakat. Ini mimpi besar yang harus didukung bersama. Bukan hanya buat kita, tapi anak cucu kita mendatang. Ini dimulai dengan pertanyaan ke diri masing-masing termasuk saya “ apa yang bisa saya perbuat?”

Pak Suhono


Beberapa hari di Jakarta membuat saya senang bukan kepalang. Pertamakalinya di Jakarta dan sendirian. Yay!! Sebenarnya ga sendiri-sendiri amat karena sendirinya cuman bentar, tapi setidaknya nyobain naik taksi sendiri, nyari gedung sendiri, dan naik busway sendiri, kemajuan bukan? :P

Ternyata ongkos taksi di Jakarta lumayan merogoh kocek juga, kebayang banget kalau kejebak macet. huaduh. Tapi seneng kemarin sempat mengobrol sama supir taksinya. Dia dari brebes. Merantau ke Jakarta pas masih bujang. Ga ada rumah, ga ada keluarga. Selama 1.5 tahun tidur di emper toko, pindah-pindah tempat sampai suatu waktu dia kenal banyak orang di pasar dan kerja serabutan jadi kuli panggul barang-barang di pasar.

Pas saya bilang saya dari bandung dia langsung jawab, “oh kumaha damang, neng?” haha kaget juga dia bilang orang-orang di pasar ternyata banyaknya dari sunda, jadi dia bisa bahasa sunda. Saya pikir selama ini banyaknya dari sumatera. Dia mengkoreksi ternyata mayoritas di pasar adalah orang sunda, sedangkan orang sumatera mayoritas supir angkot. Baiklah..baru tau pak :p

Dari perkenalannya dengan orang-orang di pasar dia jadi kenal banyak supir mobil pick up. Singkat cerita dia penasaran gimana caranya menyetir mobil dan nanya-nanya ke supir-supir itu. Mereka bilang kalau nyetir mobil sama aja dengan motor manual, cuman bedanya motor pake kaki, sedangkan mobil pake tangan untuk gantinya. Mereka mengajarkan gimana teorinya.

Didorong keinginan kuat untuk belajar dan penasaran, dia curi-curi mempraktekan nyetir mobil kalau malam-malam pas si supir-supirnya lagi tidur-cuman disekitaran parkiran. Sampai suatu ketika dia menabrakan mobilnya ke tiang. Kasus. Untung dia hanya dimintai ganti rugi tapi mereka tetap berteman, bahkan dia dikasih pinjam dan diajarin praktek menyetir besok-besoknya. Nice.

Bermodalkan nekat dan kemampuan menyetir akhirnya dia menjadi supir pick up selama 8 tahun dari satu pasar ke pasar lain, sampai keinginan berkeluarga dan dirasa gajinya tidak cukup sehingga memutuskan untuk jadi supir angkot. Dari pengalamannya bergaul dengan supir-supir angkot yang mayoritas dari sumatera dia bilang dia belajar untuk hidup keras. Mencoba survive bertarung di jalanan Jakarta.

Terakhir, dia melihat peluang lebih baik dengan menjadi supir taksi. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mendaftar jadi supir taksi. Ketika saya tanya sulit atau tidak ketika rekruitmen, dia bilang gampang-gampang susah karena selain dites menyetir, dia diharuskan menghapal tempat-tempat seperti hotel, mall, dan gedung-gedung perkantoran.

“boro-boro mbak saya hapal dimana itu hotel mulia, saya bilang ke mereka ko tidak ada pertanyaan pasar-pasar di Jakarta, saya bisa jawab hapal diluar kepala, eh mereka bilang kalo yang nanti saya supirin adalah orang-orang yang cantik dan ganteng, wangi pula, sedikit dari mereka yang akan mencari pasar” , terangnya sambil nyengir.

Begitu cerita si bapak supir taksi mengenai pengalamannya di Jakarta secara singkat saat perjalanan saya dari Bintaro menuju Kuningan. Dia bilang sekarang dia cukup puas dengan apa yang telah dia dapat. Gajinya dirasa cukup untuk bertahan di Jakarta, dari komisi yang didapat, beliau mendapat +/- 4 juta setiap bulannya. Anaknya yang sulung sedang menyelesaikan skripsi S1nya dan dia mengatakan tidak sabar untuk hadir di wisudanya :) 

Sebelum saya turun dia bilang semoga saya bisa survive di Jakarta dan berpesan untuk jangan pernah menyerah dengan kerasnya Jakarta. Saya hanya bisa tersenyum dan berterimakasih. Lalu saya meminta nomor ponselnya kalau-kalau suatu saat perlu taksi dan dia mengatakan jika saya menelepon dia akan memperioritaskan saya. Hehe.. makasih loh Pak Suhono.. Selamat menyetir, titi dj pak!