Jakarta-jakarta.. selama ini saya hanya mendengar tentang kamu
dari teman-teman dan media. Tanpa sadar saya menangis ketika membaca ini dan disini versi terjemahannya
Dulu waktu saya masih kuliah saya sempat menulis impian saya
begini:
Di umur 30 tahun saya ingin menjadi arsitek dan ibu
rumah tangga muda yang memiliki anak lucu dan tidak takut mengenai apa yang
ditonton mereka di TV. Saya menemani anak saya yang tumbuh jadi anak yang sehat
bermain di taman kota. Dengan perencanaan dan pembangunan kota yang sangat
diperhatikan oleh walikota yang saat itu adalah seorang arsitek kakak senior
saya;p, udara berangsur membaik, kadar timbal berkurang, Ruang terbuka hijau
yang tersisa dijaga dengan baik, dan ruang2 terbuka publik yang merupakan suatu
instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial yang ada banyak dibangun (ps:
ruang publik bukan mall lho..tapi ruang dimana jarak perbedaan ruang sosial
yang ada terkikis. Misal taman kota dimana orang yang berlaptop dapat duduk
bersebelahan dengan tuna wisma).
Di umur 40 tahun saya mengantar anak saya ke sekolah
menggunakan trem kota. Dengan walikota yang telah memimpin 10 tahun saat itu,
kota kami berkembang menjadi kota kompak dengan pemusatan pusat keramaian dan
pemukiman yang terencana termasuk pemukiman menengah kebawah yang terintegrasi
dengan pola transportasi massal yang baik. Sehingga orang2 mulai meninggalkan
kendaraan pribadi dalam kota layaknya di tokyo. Dan warga negara kita tidak
harus membuang2 energi percuma, baik tenaga, bensin, dan waktu.
Di umur 50 tahun, saya bersama teman2 satu geng yang
seprofesi..hehe..telah menyumbang pembangunan rumah2 susun untuk masyarakat
terutama kawasan pemulung. Saat itu saya melihat seorang presiden melakukan
pidato terbuka di depan gedung merdeka yang pada masa itu telah disulap menjadi
ruang terbuka publik (layaknya washington mall) sehingga pada masa itu
masyarakat dengan mudah menyampaikan opini dan harapan terhadap kepala negara
di negara Indonesia yang menjunjung demokrasi, ga ada cerita lagi demo yang
anarkis. Presiden berpidato dgn disambut dukungan rakyatnya yang telah melihat
bagaimana demokrasi, persamaan hak, dan kemandirian bangsa baik energi,
ekonomi, dan pangan dijunjung dan menjadi fokus utama pada pemerintahannya.
Pada masa ini udah ga jaman lagi korup. KPK jadi instansi bersih yg paling
ditakuti,,huuuoooo...itu impian..
mmmhh..yah, impian..Impian ini ga mungkin terwujud kalo kita berjalan
sendiri2..jadi saya membutuhkan bantuan kalian semuaaaaaaaaa....yang saya yakin
memiliki mimpi besar dan harapan besar.
Hhmm membangun kota sepertinya memang tidak mudah ya,
kompleks sekali dengan banyak variabel dan bermacam-macam karakter yang
masing-masing memiliki keinginan masing-masing, kepentingan masing-masing, untuk masa depan masing-masing. Ya masing-masing, terlebih dari tidak adanya
ruang-ruang publik yang disediakan dan kategorisasi ini menjadi semakin menguat,
memisahkan diri dari yang satu ke yang lain.
Saya lahir dan dibesarkan di Bandung lalu sekarang
tinggal di pulau kecil-kampung. Saya belum pernah merasakan tinggal di kota
metropolitan seperti Jakarta jadi saya tidak pernah benar-benar merasakan
bagaimana rasanya tinggal di tempat seperti itu, semoga beberapa bulan kedepan saya
mendapat kesempatan itu. Melihat dan merasakannya sendiri.
Beberapa hari di Jakarta kemarin saya merasakan hal
yang sama ketika di Paris. Muka-muka lelah dan sibuk ketika pergi atau perjalanan
pulang dari kantor. Orang-orang bergegas mengejar busway. Teman saya bercerita
jika jadwal busway tidak menentu, sehingga orang harus berlari kalau tidak ntah
kapan dapat busway berikutnya. Di Paris, jadwal metro pasti, dan berselang
hanya beberapa menit dari satu kloter ke kloter berikutnya namun tetap saja
orang-orang bukan hanya bergegas, tapi berlari. Sampai-sampai saya tanya ke
teman saya kenapa orang-orang pada berlari seperti kesetanan, dan dia jawab
mengejar metro, lalu saya tanya kapan metro berikutnya dan dia jawab 3-5 menit
lagi. Sigh.
Orang-orang keluar masuk metro dan tampak sangat
modis, kebetulan saat itu winter. Boots, scarf, dan coat membuat semua orang
tampak seperti model. Yang saya perhatikan ntah kenapa pada saat itu banyak sekali
yang menggunakan setelan berwarna hitam-hitam, mungkin hanya kebetulan. Di metro semua orang diam dan sibuk dengan lamunannya masing-masing. Satu anak muda di
depan saya membuat sketsa dan teman disebelahnya sibuk dengan ipod-nya. Tiap
orang menyiratkan tatapan dingin. Inilah parisian pikir saya dalam hati,
sebutan bagi orang-orang dari paris. Teman-teman saya dari prancis mengatakan
kalau Parisian itu dikenal songong dan belagu ketika berbicara dengan orang
prancis dari kota lain. Mungkin ini agak mirip dengan pandangan orang luar
Jakarta ke orang Jakarta ketika pertamakali bertemu sebelum mengenal jauh. Seorang pengamen
masuk lalu memainkan biola sehingga membuyarkan lamunan saya. Saya melongok,
dia tampak sangat bugar dengan setelan olahraga adidas. Alunan musik jazz yang
dia mainkan sangat indah, dia tersenyum ke arah saya ketika sadar saya memperhatikannya dengan seksama.
Di sepanjang jembatan penyebrangan di Jakarta menuju
stasiun busway tampak beberapa pengemis duduk dengan wajah menyiratkan harapan
atas kepeduliaan orang yang lewat terhadap kondisinya. Begitu pula stasiun-stasiun
di Paris, saya menemukan banyak pengemis disana. Suatu kali saya mendapati
seorang wanita muda berusia sekitar 25 tahun duduk di tangga stasiun dengan
membawa kertas yang bertuliskan dalam bahasa prancis yang artinya “saya lapar.
1 euro anda akan sangat berarti untuk saya”. Saya cukup kaget, selama
ini saya seringkali melihat pengemis di Indonesia namun tidak pernah melihat wanita
muda yang nampak biasa saja (tanpa terlihat kucel atau lusuh sehingga membuat
orang simpatik) duduk meminta. Benar-benar pemandangan yang sangat janggal buat
saya.
Namun yang berbeda adalah di Paris banyak sekali
ruang-ruang publik seperti taman-taman kota. Di hampir setiap distrik terdapat
masing-masing taman kota cantik yang dipenuhi orang-orang. Di tempat ini tua
muda, semua membaur. Di sepanjang kanal dimana sungai menjadi waterfront (bukan
menjadi area belakang seperti di Indonesia sehingga malah jadi tempat
pembuangan), banyak sekali pasangan yang bergandengan. Tidak heran kota ini
disebut kota romantis, ntah bagaimana arsitektur bangunan, lampu-lampu jalan,
kanal, semuanya menyiratkan keindahan dan harus saya akui memang romantis.
Sepasang kakek nenek duduk berpelukan di taman sembari melihat kearah sungai.
Pandangan-pandangan dingin ketika di metro seketika lenyap. Orang-orang
tersenyum ke arah saya dan melanjutkan aktivitas masing-masing tanpa merasa
terganggu. Skala kota Paris cukup besar. Bangunan-bangunan tinggi menjulang dan
jarak dari satu lokasi ke lokasi lain cukup jauh. Namun dengan sistem metro yang baik, signage yang jelas, dan
pedestrian yang baik, saya tidak merasakan rasa intimidasi seperti yang saya
rasakan di Jakarta yang ketika turun dari trem dan hendak mencapai bangunan
tertentu, saya harus berjalan melipir dan berhati-hati, naik turun pedestrian
yang tidak terkoneksi dengan baik – mengurangi keasikan dalam menikmati kota
itu sendiri.
Lalu saya mengunjungi toko loak yang ada di sepanjang
sungai (lupa namanya), mengingatkan saya di salah satu adegan midnight in Paris
dengan setting yang sama. Saya asik melihat-lihat buku dan lukisan jalanan
disana sampai saya teringat akan pasar loak di Cikapundung. Tempat buku-buku
dan majalah bekas, tukang kunci serep dengan kios-kios di sepanjang sungai
cikapundung. Paris van Java. Ada miripnya walaupun beda banget hehe..
Lain halnya dengan Amsterdam. Saya waktu itu menaiki bus menuju Amsterdam dari Paris. Pas setengah tertidur karena menggunakan bis malam saya mendengar beberapa orang berbicara bahasa Indonesia, ahahah ternyata di bis itu banyak orang Indonesianya, setelah saya perhatikan ternyata sepertiganya orang Indonesia. Menarik banget, saya sempat mengobrol tapi rasa lelah dan kantuk membuat saya tidak sempat mengobrol banyak dengan mereka. Kota ini menjadi kota
favorit saya. Kota dimana saya datang dalam cuaca 3 derajat dan diguyur hujan
selama beberapa hari disana. Namun saya benar-benar menikmatinya! Ntah
bagaimana kota ini memberi spirit tersendiri. Selama beberapa hari disana saya
berjalan, bersepeda, melihat penjuru kota pagi-siang-malam, dinginnya winter
menjadi tidak terasa lagi, saya sungguh menikmati kota ini!
Lalu lintas di kota ini sangat gila. metro, bus, mobil,
motor dan sepeda saling memotong, terutama pengendara sepeda-sepeda yang
ternyata sangat liar. Namun yang saya lihat orang-orang disana nampak sangat
bahagia, kotanya sangat hidup! Skala kota Amsterdam yang kecil cukup untuk membawa sepeda berkeliling. Tampak segerombolan anak muda
dengan sepedanya sambil ketawa kegirangan padahal lagi hujan atau beberapa
keluarga yang bermain di taman kota, atau seorang ibu hendak menyebrang membawa
kereta bayi yang pake penutup dibawah hujan rintik cukup untuk membuat saya
ikut tersenyum, bagaimana tidak kalau di Indonesia lagi hujan kaya begitu,
ditambah dinginnya winter, pasti anak-anak disuruh masuk rumah biar ga sakit. Kalau
perlu keluar apalagi membawa anak kecil sebisa mungkin bawa kendaraan sendiri. Tapi
ini enggak, semua terlihat sangat menikmati kotanya. Mereka saling tersenyum
dan sangat welcome.
Ada kejadian lucu lagi soal orang Indonesia, ketika saya berjalan tiba-tiba terdengar teriakan..”satu..dua..tiga..” glek ternyata beberapa orang Indonesia sedang berfoto. Begitu ramainya ruang luar di kota ini. Tiap sudut
kota diisi orang-orang yang berjalan, bersepeda, bermain skate-board, nongkrong,
berjualan, mengamen, berfoto. Aaahh saya benar-benar jatuh cinta dengan kota
ini, semua terasa sangat kasual dan humanis tidak kaku seperti di Paris. Setiap
kali bertanya atau mengobrol dengan seseorang baik sekadar saling menyapa di
cafe atau di tempat pelayanan publik, saya selalu mendapati orang-orang ramah
dan antusias. Kym teman kantor saya pernah bercerita kalau Belanda terutama
Amsterdam adalah kota yang sangat bebas, intinya mau melakukan apa aja boleh
asal tidak melanggar kebebasan orang lain, tidak heran misal homoseksual atau
konsumsi ganja dibebaskan di sini, dan somehow orang-orang disana free
spirited.
Setelah Amsterdam, kota besar yang saya datangi
juga adalah Barcelona. Mirip-mirip seperti di Paris dengan skala kota yang luas
dan jarak dari satu lokasi ke lokasi lain jauh, namun yang berbeda orang-orangnya
lebih ekspresif. Selain ekspresif juga agak sedikit kasar. Pengalaman beberapa
kali di tempat pelayanan publik, mereka nampak tidak seramah di Amsterdam, tapi
tidak kaku seperti di Paris. Teman saya dari Barcelona yang menjadi tour guide saya saat itu bercerita bahwa orang
Catalan seperti di Barcelona ini memang berbeda dari kota di Spanyol lain,
selain bahasanya memang agak berbeda mereka juga agak sedikit kasar. Suatu kali
saya mengunjungi bar kecil disana, yang menjaga adalah sepasang suami istri.
Selama saya disana tak hentinya mereka bertengkar dengan kencang sampe seantero
bar bisa mendengarnya, saya tidak yakin apakah itu memang bertengkar ataukah
memang begitu cara mereka berkomunikasi karena pengunjung lain nampak biasa
saja. Tak sampai disana, beberapa orang seumuran kakek saya masuk dan memesan
bir. Cukup lama setelah itu tiba-tiba mereka mulai menyanyi seriosa bersama
kenceng banget. Semua orang tertawa dan memberi salam dengan gelasnya. Cheers
atau salut! Orang-orang berteriak dan ikut bernyanyi.
Setelah keluar dari bar saya berjalan di plaza catalunya,
sekelompok pengamen mulai memainkan musik. Orang-orang mulai mengelilinginya. Beberapa
orang ikut menari ketika lewat, beberapa menari di atas tangga, dan yang paling
membuat saya terkesan adalah ada dua orang tunawisma tampak berdiri dari
tempatnya duduk dan ikut menari, kejadian itu berlangsung terus sampai beberapa
lagu yang pengamen itu mainkan berhenti. Menarik. Begitu mudahnya ruang-ruang
komunikasi itu terbuka bagi orang yang bahkan tidak saling mengenal. Bahkan
tidak perlu dengan kata. Hanya dengan musik dan semua seperti terlepas dari
jarak dan kekakuan. Saya tidak perlu mengenal mereka siapa, darimana, namun
kita berbaur bersama secara alamiah. Inilah ruang publik saya pikir. Melepaskan
latar belakang dan status sosial, dan hanya berbagi tempat dan waktu. Berbagi
momen. Tanpa perlu ada event organizer atau acara khusus.
Orang bilang kalau orang Indonesia adalah masyarakat
yang ramah, yang berbudaya gotong royong. Saya tidak menyangsikan itu, sayangnya
bentukan kota-kota yang ada tidak memfasilitasi potensi itu, bahkan yang ada
adalah membuat jarak satu dan yang lain semakin melebar. Perbedaan status
sosial semakin ditunjukan. Namun seperti sebuah prase 'Knowing is half the battle'. Setidaknya sekarang mulai banyak orang-orang yang mengerti dan
mau peduli. Orang-orang yang tau masalah dan mau menyelesaikan, dan masyarakat
yang mau turut berkontribusi.
Seperti impian yang saya tulis dulu “Saya menemani
anak saya yang tumbuh jadi anak yang sehat bermain di taman kota. Dengan
perencanaan dan pembangunan kota yang sangat diperhatikan oleh walikota yang
saat itu adalah seorang arsitek kakak senior saya;p, udara berangsur membaik,
kadar timbal berkurang, Ruang terbuka hijau yang tersisa dijaga dengan baik,
dan ruang2 terbuka publik yang merupakan suatu instrumen untuk mengurangi
kesenjangan sosial yang ada banyak dibangun”.
Solusi bagi suatu kota memang tidak bisa sama dengan
solusi di kota lain karena ini sangat kontekstual. Sifat/karakter dan kebutuhan
warga maupun geografisnya pun berbeda, namun saya tetap meyakini ruang-ruang publik
adalah suatu keharusan. Nanti-nanti kalau mau janjian dengan teman di Jakarta
tidak perlu di mall lagi. Pak Emil yang sekarang baru terpilih menjadi walikota
Bandung sekaligus arsitek senior saya menjadi salah satu harapan untuk
mewujudkan ini di Bandung dan semoga berefek ke seluruh kota di Indonesia. Dia
tidak bisa bekerja tanpa dukungan partisipatif masyarakat. Ini mimpi besar yang
harus didukung bersama. Bukan hanya buat kita, tapi anak cucu kita mendatang. Ini
dimulai dengan pertanyaan ke diri masing-masing termasuk saya “ apa yang bisa
saya perbuat?”