Menggenggam Diri



Garis-garis berwarna dilayar tampak membuyar. Mata sedang tidak bersahabat. Berkali-kali tangan menutupi mulut yang menguap, dan segelas kopi tetap tidak mampu melawan kantuk. Saya ubah posisi duduk. Kaki kiri menggantikan kaki kanan untuk naik dan dilipat diatas kursi. Posisi ini memang posisi kesukaan saya, menaikan satu kaki setengah bersila, dan membiarkan yang lain tetap menjejak tanah, nyaman.

Sejenak tersadar, ruangan kantor terasa semakin gelap semanjak hadirnya kantor baru didepan, menutupi pandangan menuju ruang hijau diseberang sana. Melihat sekeliling-beberapa tumpukan kertas, tempelan list di dinding, dan tiga orang teman kantor yang sedang tenggelam dalam dunianya masing-masing di balik layar monitor. Sudah tidak tahan lagi, bergegas keluar mencari angin segar.

Tidak jauh berjalan, saya mendapati diri dipinggir tebing. Riak ombak cukup besar kali ini. Dorongan yang kuat dari bawah tebing yang saya pijak menghasilkan suara geraman yang menghamburkan kembali sekumpulan air yang mendesaknya dan berakhir dengan buih-buih halus. Mata saya terus tertuju pada riakan air dibawah sana. sangat menarik, menghasilkan gerakan dinamis yang tak pernah sama.

Tangan mengambil kerikil untuk dilempar kebawah. Melempar beberapa diantaranya dan berharap kerikil tersebut dapat membuyarkan formasi masif sang air. Minggu yang sangat melelahkan. Saya berjalan ke hamparan rumput dibelakang dan berbaring.
Surya begitu panas menyorot, refleks tangan kiri menutup mata. Sekilas hadir satu persatu hal yang membuat saya begitu lelah minggu ini. Hal yang membuat saya sulit untuk memejamkan mata di minggu, bahkan di satu tahun terakhir. Sungguh aneh, betapa tidak saya dikenal sebagai orang yang ‘duk sek’. Sejenak menempel di bantal kemudian terlelap. Suara ombak memecah karang masih terdengar sangat jelas, namun terasa seperti petikan sitar kali ini. Menidurkan.

Panas semakin terasa di wajah yang semakin lama semakin menggelap. Saya raba rumput dibawah. Setengah sadar mencari ponsel di saku dan mendapati diri tertidur sudah hampir 2 jam lamanya. Chop chop! Saya bergegas menuju kantor.

Istirahat. Mungkin itulah yang dibutuhkan. Terus berlari-dan berlari memadatkan aktivitas menekan diri untuk terus bergerak sehingga tidak banyak berpikir, jeda mengolah rasa dan berakhir dengan rasa asing pada diri sendiri.

Istirahat, mungkin itulah yang dibutuhkan. Pasrahkan diri, biarkan air dan angin memberi isyaratnya, dan biarkan tubuh menerimanya, bergerak beriringan menemukan kedinamisan bersama. Bebaskan saja, lepaskan saja, pasrahkan saja. Seperti arus dalam laut. Setiap yang hidup akan mati, benih akan tumbuh dan kemudian akan mati. Kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan akan saling membangun satu sama lain, mereka tidak hanya sekedar menggantikan, namun bersatu sama lain melalui aliran konstan alam semesta. Genggam diri dan biarkan diri menemukan keseimbangannya. Yin Yang.

0 komentar:

Poskan Komentar