Mengenang GUS DUR dan sedikit pandangan saya tentang agama

Tanggal 31 sampai tanggal 6 januari 2010 ditetapkan sebagai hari berkabung nasional oleh presiden SBY atas meninggalnya mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid. Sebelum berita kematian dan banyaknya ulasan mengenai Gus Dur saya tidak mengetahui lebih jauh mengenai sosok beliau. Yang saya tahu selain mantan ketua PB NU yang mengangkat organisasi ini menjadi besar, mantan presiden yang penuh kontroversi termasuk salahsatunya adalah sebagai anggota tetap dalam organisasi Simon Perez dan juga orang yang blak-blakan, nampaknya beliau tidak suka basabasi dan formalitas.

Sebagai kiai dan orang yang besar dalam organisasi agama islam nampaknya beliau cukup unik dan berpikir berbeda dari pada kiai kebanyakan. Saya ingat ketika dahulu pernah ditanya mengenai keanggotaannya dalam organisasi israel simon perez dia menjawab santai “ bukankah jalan terbaik untuk mengetahui musuh adalah dengan masuk kedalam lingkaran musuh itu”. Jawaban yang santai itu ternyata membuat saya berpikir karena pastinya diperlukan kepintaran, keberanian, kesabaran dan keteguhan hati untuk melaksanakan ucapan tersebut agar tidak terseret didalamnya. Dan dia telah melakukannya.

Setelah melihat banyaknya ulasan mengenai sosok beliauTerbitkan Entri saat ini dan begitu dipujanya oleh salahseorang teman yang beretnis tionghoa, saya baru mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang pluralis. Menghormati keberagaman dan menjunjung perdamaian. Cukup menarik jika dikaitkan dengan keanggotaannya di simon perez. Ternyata beliau menyebut musuh bukan sebagai pihak yang harus diperangi dan dijauhi, namun yang harus didekati agar kita mengetahui pemikirannya sehingga dapat mengetahui perbedaan pemikiran yang ada dan pada akhirnya mendapat solusi sehingga perdamaian di dunia dapat tercapai.

------------------------------------------------


Berbicara mengenai agama, saya sepakat dengan beliau. Menurut saya yang masih tidak tahu apa-apa ini, keyakinan spiritual itulah yang penting, lebih dari jenis agamanya. Apalah arti birokrasi tertua sejagat sekalipun kalau inti dari keyakinannya cacat. Pada siapa orang menyembah tidak sepenting keyakinannya itu sendiri. iman itu nomor satu baik kepada Allah, Buddha, Yesus, Wisnu atau kepada dewa-dewa paganisme. Semua agama di dunia ini ibarat mozaik yang berpendar dengan warnanya masing-masing dalam putaran spektrum. Matahari tetap satu, kendati pecahan warnanya bermacam-macam.

Kita adalah makhluk yang terbatas yang mencoba menguak ketidakterbatasan. Pertanyaan-pertanyaan kitalah yang berarti, bukan jawaban. Jawaban tak pernah sepenuhnya utuh karena dibatasi oleh indra fisik. Tak pernah sepenuhnya benar karena ‘jawaban’ manusia tentang rahasia tuhan selalui diwarnai perspektif budaya, sosial, kelaziman, prasangka, ketamakan dan sederet ‘dosa’ lainnya.

Pada dasarnya saya tidak suka doktrinasi. Doktrin tanpa penjelasan yang dapat diterima. pokonya ini benar, ini salah. Ini pahala, ini dosa. Ini haram, ini halal. Hal-hal yang terus ditanamkan kepada saya sedari kecil. Tetapi bukan berarti saya tidak beriman. Percaya. Yakin. Beriman pada hal-hal gaib adalah sumber kreativitas manusia-mengangkat kita pada pencapaian hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh fenomena alamiah, selain memampukan kita untuk mentransendenkan jagat fisik. Semakin saya membaca buku-buku yang menguak banyaknya kontroversi dibalik birokrasi agama-agama seperti konferensi Nicean dan urutan peristiwa yang mengacu pada banyaknya kontroversi yang ada, juga banyaknya kekerasan dan ketidakadilan dengan mengatasnamakan agama dan ketuhanan, insya Allah justru membuat saya semakin meyakini tuhan saya.

Setiap agama menurut saya layaknya pintu-pintu berbeda menuju satu tuhan yang sama. Sebagai makhluk terbatas, kita tidak akan pernah bisa memahami lebih dari sekuku hitamnya ketidakterbatasan. Mungkin tidaklah heran kalau berbagai jenis orang dan budaya hanya mampu melihat versi masing-masing dari sedikit kebenaran tentang Tuhan. Seperti anekdot tiga orang buta mengambarkan seekor gajah. Kita adalah makhluk buta dengan caranya masing-masing. Setiap agama memiliki pandangan kesejatiannya sendiri tentang Tuhan.

Miris sekali ketika masing-masing agama kukuh memaksakan jalannyalah yang paling benar. Sama saja seperti tidak jujur terhadap imannya sendiri. sentimen untuk merendahkan sudut pandang individu lain tentang Tuhan. Iman adalah benang merah kita terhadap Tuhan. Sayangnya agama cenderung dijadikan usaha untuk memaksakan visi kita kepada oranglain.

Memaksakan visi bahkan sampai menasbihkan tuhan dengan wujud menurut saya tidak ada bedanya dengan onani intelektual-berusaha membatasi yang tak terbatas, memberi wajah pada sesuatu yang tak berwajah-tidak diketahui wajahnya. Mungkin salahsatu dari sepuluh perintah tuhan yang melarang untuk membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi, atau yang ada di dalam air di bawah bumi dalam kristen (link) adalah agar fokus pada abstraksi-pada ketidakterbatasan dan kemahabesaran ketimbang perwujudan konkret dan teologi semata. Beriman pada hal-hal gaib jauh lebih kuat ketimbang beriman pada hal-hal yang bisa diraba. Mungkin ujian sejati keimanan adalah meyakini tanpa melihat.

Pertanyaan yang penting, bukan jawaban. Pertanyaan untuk mencari hubungan yang lebih baik dan lebih dekat dengan Tuhan dengan tidak mengecualikan hubungan-hubungan lain yang telah dibangun. Bahwasanya tidak ada keyakinan yang berhak memonopoli Tuhan.

------------

Akhirnya terdapat aturan emas yang tetap bersemi di hati spiritual semua keyakinan. Hati yang sering diabaikan oleh mereka yang rajin berkhotbah dan menyatakan telah mempraktekan. Perintah abadi untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri dan memperlakukan oranglain sebagaimana ingin diperlakukan adalah hal teramat sederhana yang mestinya dapat dipahami, dimengerti dan dilakoni oleh pikiran sederhana sekalipun.

Seperti kata seorang yahudi bijak bernama Hillel “cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai diri sendiri”

“ untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (al-quran surat al-kafirun ayat 6)

yg penting adalah bagaimana kita hidup bersama dengan persepsi dan pemikiran masing-masing. tdk lagi saling menjatuhkan, menghujat dan merasa paling benar karena rumusan ideal tdk akan pernah terjawab, i guess..

so, be tolerant..^^

Selamat tahun baru masehi 2010

Selamat menyongsong tantangan baru. Semoga anda mendapatkan keberuntungan dan kesuksesan ditahun mendatang.

Mungkin saat ini sama saja seperti saat-saat yang lain.namun tidak ada salahnya jika memanfaatkan momentum tahun baru ini untuk mengevaluasi diri. Berhenti beraktivitas sejenak untuk melihat jalur tempuh dan memasang ancang-ancang untuk berjuang di tahun depan.

Kita tidak pernah tahu kapan kita meninggalkan dunia. Berharap artinya manusia. Cemas artinya berpikir. Berjuang artinya hidup. Saya tidak mau mati konyol disaat fisik saya masih hidup. Selamat berjuang^^

wow magic :D

Pertemuan dengan koordinator Tugas akhir beberapa hari yang lalu cukup membuat lega. Beliau bertanya apakah saya itu anak yang tidak diluluskan oleh koordinator kelompok sidang. Nampaknya beliau cukup mengetahui mengenai permasalahan TA saya. Selanjutnya beliau ingin melihat hasil gambar TA saya dan berjanji akan mendiskusikannya dengan ketua prodi lalu memberitahukan secepatnya bagaimana hasil keputusan untuk tugas akhir saya berikutnya.

Dan yang terjadi adalah sebuah keajaiban.

Beliau mengatakan bahwa saya tidak perlu mengulang. Saya mendapat nilai t dan dapat mengikuti sidang khusus pada akhir januari.

Sebelumnya jarang terjadi atau mungkin saya tidak pernah mendengar ada yang mendapat satu kali tambahan sidang. Biasanya yang mendapat sekali tambahan sidang adalah untuk mereka yang memang belum mengikuti sidang tiga dikarenakan sakit atau hal-hal lain diluar kuasa mahasiswa tsb.

Ya Tuhan, saya sangat bersyukur. Lagi-lagi menemukan keindahan dibalik cobaan. Alhamdulillah :)

dewasa?



Nenek selalu mengatakan kepada cucu-cucunya, “sekarang kalian sudah besar, sudah bukan anak-anak lagi, cobalah untuk dewasa dalam mengambil keputusan”

Oke sejujurnya saya merasa belum dewasa.

Ada suatu waktu saya bertemu seseorang. Dia mengenalkan saya mengenai kedewasaan. Tanggung jawab, prinsip, empati. Saya bersyukur telah diperkenalkan dengan orang yang luar biasa ini.

Waktu berlalu dan cerita tak lagi sama. Ketergantungan terhadap seseorang membuatnya lupa akan kedewasaan yang dulu diperkenalkannya.

Ternyata, mungkin, dewasa hanyalah soal kesabaran dan pengorbanan.

Seseorang tidak perlu menjadi filsuf untuk menjadi bijaksana. Dia hanya perlu menjadi dewasa. tentu tidak mudah. Mungkin semua masalah yang ada di dunia ini hanyalah soal kedewasaan..fufufu


yes. i want to be patient now

Pengen ngecat kamar

Berencana mengecat kamar. Memikirkan kira-kira warna apa ya yang cocok dengan kamar saya dan tentunya dapat merubah suasana menjadi lebih menyenangkan. Sebagai mahasiswa arsitektur seharusnya saya sudah memahami warna apa yang tepat jika ingin mendapatkan efek psikologis tertentu. Lebih tepatnya saya masih bingung, mood apa yang ingin saya hadirkan di kamar, apakah suasana yang membuat nyaman untuk belajar, tenang untuk tidur dan beristirahat, atau justru suasana yang semangat, karena biasanya saya menjadikan kamar sebagai tempat dimana saya bisa melakukan kesemuanya..

Emang ga boleh asal sih dalam memilih warna karena tiap warna memancarkan panjang gelombang cahaya tertentu. Pancaran gelombang ini menghasilkan energi yang akan berhubungan dengan salahsatu dari tujuh cakra yang kita miliki. Warna-warna yang diterima tubuh akan bekerja menyeimbangkan cakra-cakra yang tidak seimbang. Untuk itu selain berpengaruh pada psikologi, warna pun dapat menjadi terapi.

Hhmm.. bingung antara krem, kuning, peach, coklat muda, hijau muda, atau kembali putih..apa campur warna aja ya jadi nanonano? Atau gradasi?..bwahahahhaa..nampaknya akan mengalah pada mood esok hari haha:D

selamat tahun baru





Selamat tahun baru!!. Hari ini tanggal 1 muharram dalam penanggalan islam. Kalau tidak salah dalam islam tanggal satu muharram merupakan tanggal dimana nabi muhammad melakukan hijrah dari mekkah ke madinah.

Tanggal satu muharram atau tahun baru islam ini berbarengan dengan tanggal 1 suro dalam tahun saka penanggalan jawa. Saya sempat bingung kenapa penanggalan saka berbarengan dengan hijriah, ternyata setelah nonton di metro tv kemarin itu merupakan salahsatu cara pada masa lampau untuk mengenalkan islam kepada masyarakat Jawa. Jadi sultan saat itu mengeluarkan kebijakan untuk menyamakan tahun saka dengan tahun hijriah dan memperingati tahun baru secara berbarengan (telat banget ya baru tau :p, CMIIW)

Banyak upacara yang dilakukan dari perayaan tahun baru satu suro ini. Biasanya masyarakat jawa berkumpul di alun-alun, pantai selatan maupun keraton untuk melaksanakan tradisinya. Ternyata bukan hanya masyarakat jawa timur dan jawa tengah saja, pada masyarakat jawa barat pun ternyata dikenal perayaan ini, seperti yang dilakukan di padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran Gunung Simpai yang berada di Sumedang.

Tidak bisa bercerita banyak. Saya tidak tahu seperti apa rangkaian perayaan-perayaan tersebut, penasaran sih, mencoba mengajak beberapa orang yang mungkin tertarik untuk melihat perayaan yang ada di Jogja, sayangnya belum ada yang bisa. Semoga tahun depan masih ada kesempatan untuk melihat salah satu tradisi kebudayaan masyarakat Jawa tersebut :)


Berkunjung kerumah nenek

Jangan salah mengira ketika membaca judul diatas. Saya tidak akan menceritakan bagaimana menyenangkannya suasana ketika berkunjung dirumah nenek , apalagi menceritakan lingkungan rumah nenek yang asri dengan banyaknya tanaman didepan rumah juga mengenai pemandangan hamparan sawah dengan para petani yang dengan semangatnya mencangkul dibawah terik matahari disiang hari seperti yang biasanya saya karang ketika sd :P. Tentu saja, selain karena rumah nenek saya satu kota dan memiliki pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan rumah saya, juga karena tidak ada susana yang menarik yang masuk ke pikiran saya dan cukup untuk membuat saya ingin menuliskannya.

Ketika berkunjung kesana saya bertemu dengan dua orang sepupu. Yang pertama masih sekolah sd dan yang kedua sudah masuk sekolah menengah atas. Kira-kira waktu itu pukul sebelas siang, mungkin lebih beberapa menit, atau kurang beberapa menit, atau mungkin sudah jam duabelas. saya tidak atau pasti. dan lagipula tidak penting juga saat itu jam berapa,hahaha,, kami mengobrol ngalorngidul dari mulai mengomentari acara yang saat itu sedang memutar idola cilik terutama mengenai oki lukman yang bisa sebegitu lincahnya dengan bentuk badannya yang nampak tidak mendukung sampai bercerita tentang sekolah masing-masing. Ada yang menarik ketika Irvan, sepupu saya yang sudah SMA menceritakan bahwa dia kesal sekali hari itu dengan salahsatu guru disekolahnya. Guru agama tepatnya. Dia hampir saja kehilangan kesempatan memperbaiki ujian karena dia sempat ngotot untuk tidak membayar.

Jadi menurut irvan, sang guru agama mengharuskan anak-anak yang mendapat nilai kurang dari standar untuk remedial alias perbaikan nilai. Ohya, untuk yang belum tahu, saat ini ada kebijakan bagi sekolah untuk mematok standar bersama mata pelajaran bagi seluruh kelas dengan parameter yang ditetapkan sekolah masing-masing. Jika ada anak yang memiliki nilai kurang dari standar tersebut maka diharuskan diadakan perbaikan sampai sianak mampu melewati atau minimal sama dengan standar tersebut.

Yang lucu adalah sang guru agamanya Irvan mematok harga bagi yang akan mengikuti remedial sesuai dengan nilai awal sianak. Jika nilainya 6 maka yang harus dibayar sebesar Rp. 10.000, jika nilainya 5 maka sebesar Rp. 20.000, jika nilainya 4 sebesar Rp. 30.000, dan begitu seterusnya. Bisa dibayangkan jika semua anak di semua kelas yang diajarnya nilainya 1, tuh guru kayaknya bisa kayak mendadak. haha berlebihan:D. Sang guru berujar uang tersebut akan disumbangkan untuk korban gempa.

Guru agama yang unik, sangat bisa membaca peluang dan kondisi, nampaknya beliau berbakat menjadi entrepreneur wkwkwk. Mencoba berpikir positif. Mungkin sang guru berniat untuk berbagi dan mengajarkan bagaimana indahnya memberi , jika memang benar uang tersebut disalurkan kepada korban gempa. yang menggelitik adalah mengapa harus dipatok, dan bukankah dengan jalan seperti itu sama saja mengajarkan untuk berbagi secara tidak iklas-dengan adanya kepentingan dan keuntungan pribadi yang bisa didapat setelah itu. Atau mungkin ini akal-akalan guru tersebut untuk mendapat uang tambahan. Tidak ada yang bisa memastikan memang. Toh menurut irvan sang guru menutupi hal tersebut dari guru yang lainnya. Hanya sang guru dan Tuhanlah yang tahu. Ditambah mungkin keluarganya sang guru :P. Yang pasti jika ternyata sang guru berbohong menurut saya ini sangat keterlaluan. Memanfaatkan musibah oranglain untuk mengambil keuntungan pribadi..ckckck. sangat-sangat bertentangan dengan mata pelajaran yang beliau ajarkan.

Ada percakapan menarik antara irvan dan sangguru dengan setting tempat di ruang guru yang diceritakan irvan , kurang lebih seperti ini;

Sangguru: “irvan bagaimana? Cuman kamu yang belum membayar uang remedial. Nilai kamu 6, jadi kamu membayar Rp.10.000 saja”

Irvan : “enggak ada uang pak” (jawaban singkat Irvan karena sudah bosan menanyakan sebenarnya uang ini untuk apa dan gondok karena selalu dijawab dengan singkat pula, untuk korban gempa)

Sangguru: trus kamu tidak ingin remedial?

Irvan: yah inginlah pak, tapi saya tidak punya uang. Apa saya tetap bisa ikut remedial?

Sangguru: hhmm klo kamu tidak ingin membayar, kamu bawa installer photoshop sebagai syarat mengikuti remedial ( what the *piiipppppp.. apa hubungannya agama sama photoshop, sakit..bener-bener sakit..)

Irvan : yahhhh saya tidak punya pak

Sangguru : banyak kok, kamu bisa cari BEC atau di salman, deket itb (hahhaha..bagian ini membuat saya nyengir karena tau harganya lebih dari Rp.10.000)

Irvan : yah jauh pak, yasudah pak saya bayar saja ( akhirnya pasrah sambil mengeluarkan uang Rp. 10.000 karena ingin cepat-cepat remedial)

Sangguru: banyak guru lain yang sentimen gara-gara ada yang mendengar tentang ini, kamu selipkan saja uangnya dibuku itu! (sambil menunjuk kebuku yang ada didepan mejanya sambil langsung menulis sesuatu ntah apa, dan menyuruh irvan langsung keluar ruangan)

Sumpah bagian ini cukup bikin saya ketawa ngakak sambil gulingan2an di atas meja seperti model-model di video klip. Ga deng.hahhaha pokonya ekspresi konyol irvan yang menirukan mimik gurunya cukup membuat pipi saya pegal.

--------------

Sakit memang. Heran, ada juga ya yang seperti ini. Jika saya mengingat jamannya SMA, remedial bukanlah hal aneh dilakukan dan tentu saja tidak ada hubungannya dengan uang. Dengan mendengar cerita ini saya hanya berpikir ternyata komersialisasi pendidikan masih banyak dilakukan. Apapun bentuk dan alasannya. Hal yang saya benci dan membuat saya memilih untuk tidak mengikuti bimbel ketika akan mengahadapi SPMB. Apalagi jika menghubungkannya dengan fasilitas untuk mendapatkan pengajaran berbentuk remedial tersebut (saya tidak ingin menyebutnya pendidikan, karena bagi saya pendidikan lebih dari hanya sekedar timbal balik materi, tapi disana terdapat bimbingan dan implementasi dari materi melalui contoh sikap pendidik yang pada akhirnya dapat membangun karakter dari yang dididik).

Mendengar cerita ini mengingatkan saya pada salahsatu film dokumenter yang saya tonton di selasar sunaryo beberapa tahun lalu yang menceritakan bagaimana kegigihan sekelompok siswa SMA dalam membongkar praktek korupsi yang sudah bertahun-tahun dilakukan disekolahnya dan juga berita beberapa waktu lalu di TV one mengenai orang tua siswa sd yang mencoba melaporkan adanya dugaan penyelewengan dana BOS di sekolah anaknya yang sampai tahun keempat ini masih belum juga ada kepastian yang jelas mengenai kasusnya. Perkataan SBY untuk melakukan bersama-sama gerakan ganyang mafia peradilan dan koruptor terasa seperti tiupan angin karena justru hal ini masih banyak dilakukan oleh para pengajar disekolah, orang-orang yang bisa dibilang paling berpengaruh dalam pembentukan mental generasi bangsa tercinta ini. Miris.

Saya merasa sedikit beruntung. Sewaktu saya SMA guru-guru saya selalu mengatakan bahwa kami semua pintar, dan disini tidak hanya dibutuhkan siswa yang pintar tapi juga memiliki karakter. Karakter yang baik tentu saja. seperti moto SMA saya dahulu “ knowledge is power but character is more”.

Nampaknya ini menjadi PR bersama, bagaimana menumbuhkan kepekaan siswa mengenai kondisi disekitarnya, bagaimana menumbuhkan kesadaran guru yang bukan hanya bertanggung jawab atas tersampaikannya materi namun juga bertanggung jawab dalam pembentukan moral muridnya, bagaimana pemerintah dapat berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan yang terpenting bagaimana pemberantasan korupsi bisa dimulai dari lingkungan terdekat dan secara mendasar, orangtua dan guru sebagai pilarnya.

Sangat mulia dan besar sekali tanggung jawab seorang guru, seperti potongan lagu himne guru dibawah ini yang masih saya hafal karena sering dinyanyikan ketika SMA terutama pada perayaan hari guru yang biasanya dilakukan dengan kegiatan memberi bunga secara bebas kepada guru :)


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti trimakasihku tuk pengabdianmu..

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan..

Engkau patriot pahlawan bangsa...

Yang sangat berjasa

*

jadi kangen pak engkus, wali kelas kelas empat SD, yang karenanya saya jadi semangat untuk mencari tau tentang suatu pelajaran lebih dari yang ada di buku pelajaran

jadi kangen bu Sulas, guru bahasa Indonesia yang asik, tak bisa dilupakan bagaimana ibu melemparkan buku-buku PR kami ke berbagai penjuru kelas jika ada yang tidak berkenan, dan berteriak “ eta aweweeeeeee!!” ketika ada anak perempuan yang berkelakuan aneh atau memakai baju yang menurut ibu aneh,hahahha,,

jadi kangen pak tata yang membuat saya berubah seratus persen dari yang asalnya benci fisika menjadi menyukai fisika dan salahsatu guru yang paling enak dalam menyampaikan materi

jadi kangen pak Hera, guru matematika SMA yang *maaf, ketika menjelaskan banyak yang tidak mendengarkan karena bapak terlalu pintar sehingga sulit kami mengerti dan berkali-kali curhat mengenai susahnya mematenkan temuan bapak, calculogic, yang sebenarnya sering bapak jelaskan cara kerjanya tapi tetap tidak dapat saya mengerti J

jadi kangen sama ibu Yoyoh, walikelas guru sejarah yang saya rasa saat itu cukup galak, tegas tetapi sebenarnya baik dan dengan kurangajarnya kami sekalas menyebut ibu pithecantropus, sesungguhnya itu rasa sayang kami bu,, hehe maafkan kelakuan kami dulu, ibu sangat berkesan.

Jadi kangen pak firman, guru matematika yang asik ketika mengajar lengkap dengan teriakan bapak jika ada yang mencontek ‘ mental brengsek!!!’

Jadi kangen pak Tatang, dosen senior di arsitektur yang masih sangat gagah diusia senjanya yang melebihin 75 tahun. Beliau banyak mengajarkan comonsense dalam berarsitektur. Tidak lupa bentakan bapak seperti “GOBLOK!!” dan kata-kata lain yang menggelegar dan mengakibatkan suasana studio menjadi hening seketika setiapkali bapak masuk. Walaupun cara mendidik bapak bergaya ‘lama’ (katanya dari taun 70an bapak sudah dikenal seperti itu), bapak sangat berkesan bagi kami sampai-sampai terciptalah lagu berjudul aloha opa dari baby eat cracker

Dan untuk semua guru dan dosen yang telah mengajar dan mendidik saya

Terimakasih. Lagu diatas untuk anda semua.