Be Happy

Iseng mengamati lingkungan, Ada yang mengaku happy dalam hidupnya, ada yang mengaku unhappy. Mencoba merumuskan perbedaan karakter dari mereka yang mengaku happy dan unhappy, yang saya pelajari adalah;
  • Kecerdasan intelektual bener2 tidak menjamin kecerdasan/ kestabilan emosi
  • Perbedaan signifikan kedua orang itu dari kemampuan menahan diri, ga rakus, mau semuanya dan semaunya, padahal kita akan menuai apa yang kita tabur. Tidak kurang, tidak lebih. Kasarnya Happy people sadar diri.
  • Happy people respek sama orang lain. Memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Mereka menghargai orang disekitarnya. Berterimakasih. Meminta maaf. Mereka menghargai usaha sekecil apapun dari orang lain.
  • Hidup ga dibuat ribet. They will find that is necessary to let things go; simply for the reason that they are HEAVY.
  • Don’t sweat the petty things, and don’t pet the sweaty things. – George Carli. Tiap hari kita akan bertemu dengan berbagai macam kondisi dan berbagai macam individu. Orang-orang yang menyetir seenaknya di jalan, orang yang menabrak tanpa bilang maaf, atau banyak hal lain yang bisa membuat kesal. Bagi happy people kejadian ini ga akan membuatnya emosi. Sedih dan kecewa, tapi ga emosional, karena mereka sadar dengan menjadi emosi hanya akan menguras energi yang harusnya bisa disalurkan untuk hal lain yang lebih penting. Peduli tapi tidak tersulut emosi. Its totally different cause emoytion is just a matter of ego.
  • Solitude. Mereka punya waktu untuk sendiri. Refleksi. Mereka tidak takut untuk sendirian. Karena sendiri tidak berarti kesepian. Mereka menikmati dirinya sendiri.
  • Orang yang happy cenderung merasa aman. Secure

Ingat Maslow’s hierarchy of needs? Terlihat bagaimana hirarki kebutuhan dan motivasi psikologi manusia. Yang paling mendasar adalah psikologi dan keamanan yang disebut defisiensi; harga diri, persahabatan, cinta, kebutuhan fisik. Jika defisiensi tidak terpenuhi makan individu akan merasa cemas dan tegang. Maslow menunjukan bahwa tingkat paling dasar harus terpenuhi sebelum individu memiliki keinginan yang kuat/ motivasi pada kebutuhan di tingkat diatasnya. Maslow juga menciptakan istilah metamotivation, menggambarkan motivasi dari orang-orang yang melampaui lingkup kebutuhan dasar dan berusaha terus menerus melakukan perbaikan.

Pikiran manusia dan otak yang kompeks memiliki proses parallel yang berjalan pada saat yang sama, sehingga banyak motivasi yang berbeda dari berbagai tingkat hirarki pada waktu yang sama. Maslow mengatakan dengan jelas bahwa kepuasan manusia bersifat ‘relatif’. Sehingga tingkatan ini bisa terjadi secara parallel dan berbagai tingkat motivasi bisa terjadi kapan saja.

Mungkin ternyata happiness is just a state of mind. Happy people sadar kalo kebahagiaan ada pada dalam diri yang damai. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh lingkungan, tidak oleh materi, tapi oleh dirinya sendiri. Dengan begini mereka tidak ber-ekspektasi lingkungan membuatnya happy.

There is no way to happiness. Happiness is  a way – Buddha

2014 lets be happy! YOLOOO.. :D

0 komentar:

Poskan Komentar