Sebuah apresiasi terhadap Gereja katolik Pohsarang, Kediri, Jawa Timur.


Arsitektur berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia dalam menjalani kehidupannya termasuk dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Agama sejatinya mendukung manusia untuk selalu mencintai tuhan dan sesama manusia lainnya. Untuk itulah sebuah arsitektur bangunan keagamaan harus dapat mengakomodasi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan tuhan dan manusia lainnya sehingga manusia dapat menjalani kehidupan seutuhnya.

Gereja pohsarang yang terdapat di Kediri merupakan gereja yang dibangun pada tahun 20an. Dibangun pada saat gereja-gereja di indonesia dan dunia berkiblat pada gereja abad pertengahan bergaya romanesk dan barok dengan bangunan yang tinggi menjulang dengan kolom-kolom besar, gaya arsitektur gereja yang sampai saat ini banyak diadopsi. Menunjukan kemegahan suatu bangunan keagamaan.

Namun apakah suatu kebutuhan untuk bergama, menyembah, memanjatkan puji dan doa kepada tuhannya dan menyayangi sesamanya memerlukan suatu bentukan arsitektur yang bermegah-megahan? Memang tidak ada yang salah dengan ini. Bentukan arsitektur yang megah dengan penuh ukiran dapat membuat manusia yang ada di dalamnya merasa kecil dan tidak berarti, cara untuk menunjukan kebesaran Tuhan.

Namun sungguh amat disayangkan jika bentukan arsitektur keagamaan yang bermegah-megahan justru membentuk jarak antara satu manusia dan manusia lainnya. Apalagi sampai menghilangkan nilai-nilai budaya dan potensi lingkungannya, teknologi struktur baru, dan terpaku pada keajaiban bangunan peribadatan pada masa lampau. Dengan kondisi rata-rata masyarakat Indonesia yang masih jauh dari titik kemapanan secara ekonomi, amat disayangkan jika justru bangunan keagamaan memberikan rasa keseganan. Menjadi bangunan yang tidak dapat merangkul semua golongan pemeluk agama tersebut.

Saya pernah mendengar dari seorang teman bahwa di gereja dekat rumahnya akan diperbaiki dan dibangun menjadi gereja yang besar dan bergaya arsitektur barok dengan biaya yang tidak sedikit dengan dibantu oleh sumbangan para jemaat dan dari berbagai donasi. Ironi, karena saya tahu tempat tersebut merupakan kawasan masyarakat menengah kebawah, berada di lingkungan pasar yang banyak menampung para tuna wisma. Kondisi masyarakat yang memprihatinkan, dan saya tidak dapat membayangkan sebuah Bangunan keagamaan akan lahir disana, seolah menjadi makhluk asing yang angkuh.

Lantas apa hubungannya dengan gereja pohsarang?

Gereja pohsarang berada di kediri, kota di Jawa timur yang banyak memiliki nilai budaya jawa yang kuat. Kota lahirnya kerajaan besar majapahit dengan nilai historis yang tinggi. Di kota ini banyak peninggalan candi jawa timur, khususnya candi agama hindu dan merupakan kota penghasil batu. Kota inipun terkenal dengan kerajinan tembikar, bahkan kerajinan ini pada masa lampau terkenal sampai ke asia tenggara.

Gereja pohsarang dibangun dengan sangat indah dengan mencampurkangaya arsitektur jawa yang berupa pendapa dan candi dengan teknologi rangka kayu yang dipadukan teknologi baru saat itu, yaitu sistem tarik dengan jaringan kawat galvanis dan simbolisme gereja katolik. Gereja ini tidak sepenuhnya mengambil bentukan arsitektur gereja katolik, namun disesuaikan dengan kondisi masyarakat kediri dan potensi setempat. Tranformasi budaya yang berada pada bangunan gereja pohsarang inilah yang membuat saya tertarik akan gereja ini hingga akhirnya menjadi salah satu bangunan yang saya bahas pada KK saya sejarah teori dan kritik Arsitektur dengan membandingkan sampai ke detail antara bangunan candi jawa timur lengkap dengan sejarah majapahitnya, gereja bergaya abad pertengahan dan gereja katolik Pohsarang. disini saya akan merangkum garis besar dan hal2 yang bersifat umumnya saja dari transformasi tersebut :)

Wujud dari Gereja Pohsarang adalah segitiga dan lengkung. Segitiga merupakan wujud yang sama yang dapat ditemukan pula pada gereja bergaya romanesk maupun gotik, juga pada banyak candi hindu yang ada di Jawa timur.Kesamaan wujud segitiga dengan bangunan yang mengarah keatas menunjukan keseimbangan dan sebagai simbolisasi menuju kearah tuhan.

Yang kedua adalah wujud lengkung. Wujud lengkung yang ada pada Gereja pohsarangpun sama dengan wujud yang ada pada arsitektur Gereja bergaya romanesk dan pada candi di Jawa Timur. Namun hal yang melatarbelakangilah yang berbeda. Pada Gereja Pohsarang dan Gereja bergaya romanesk unsur lengkung tercipta karena teknologi struktur yang digunakan sedangkan pada candi merupakan simbol samsara yang berarti lahir, hidup, mati, dan lahir kembali.

Berdasarkan fungsi secara umum kebutuhan sebagai tempat peribadatan terdapat di Pohsarang. Namun Pada Pohsarang terdiri dari beberapa bangunan terpisah dan memanfaatkan lansekap sebagai bagian dari Gereja. Ruang pada lansekap dan beberapa ruang yang sengaja dibuat kosong pada bagian pendapa dimaksudkan untuk tempat berkumpul dan bersosialisasi atau acara-acara bagi masyarakat seperti sendratari. Fungsi tambahan ini merupakan fungsi yang sering diadakan pula pada bangunan candi dan merupakan budaya masyarakat setempat. Inilah yang membedakan Pohsarang dengan Gereja katolik lainnyayang merupakan satu ruang besar dengan kolom-kolom yang berjajar dengan orientasi kedalam bangunan, tidak memiliki dialog dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Hal penting yang saya amati adalah adanya kesamaan antara bangunan Gereja Pohsarang dengan gereja katolik lain dan juga candi hindu bahwa terdapat hirarki pada setiap bangunannya, seperti penggunaan tangga maupun urutan ruangan. hirarki atau urutan ini merupakan simbol proses yang harus ditahapi untuk menuju kearah tuhan.

Dalam segi pemilihan bahan dan konstruksi Pohsarang mengunakan bahan yang ada di daerah setempat dengan memakai system penumpukan batu dengan perekat yang sama pada candi yang ada di Jawa Timur dan menerapkan teknologi struktur tarik yang merupakan teknologi baru. Inilah perbedaannya dengan Gereja katolik lain yang meniru gaya gotik dan romanesk yang masih menggunakan busur lengkung dengan kolom-kolom batu yang rapat. Hal ini tidak mencerminkan semangat jamannya karena pada waktu itu sebenarnya telah ditemukan teknologi baru yang melampaui dengan apa yang ada di abad pertengahan.

Dalam hal estetika, gereja pohsarang memiliki banyak kesamaan baikdengan Gereja bergaya romanesk, gotik dan pada candi jawa Timur. elemen estetika sama-sama banyak ditujukan untuk simbolisme ajaran, seperti cerita- cerita yang ada pada alkitab atau pada kitab-kitab hindu. Perbedaannya pada gereja Pohsarang dan candi simbolisme diwujudkan dalam relief-relief dan patung dari batu, sedangkan pada gereja katolik kolonial lain yang bergaya romanesk dan gotik simbolisme tercipta pada patung beton dan lukisan/ mural.

Performa secara umum yang menggambarkan gereja katolik terutama pada masa kolonial yang meniru gaya romanesk dan gotik adalah kesan monumental, megah, tinggi menjulang, Pada bangunan candi pun kesan yang didapat adalah monumental dan sakral. Sedangkan gereja Pohsarang berkesan membumi dengan adanya integrasi dan penggunaan unsur-unsur alam dengan skala bentuk manusiayang tidak monumental. Untuk acara pujian dan ritual lainpun gereja pohsarang menggunakan gamelan sebagai alat musiknya.

Bagaimana jika menggunakan arsitektur gereja semacam ini untuk kuil Budha atau masjid? Apakah Kompleks gereja Pohsarang, dengan suatu cara hendak menunjuk keatas lalu ditemukan kesamaan pada bangunan-bangunan lain bahwa sebagian besar dengan suatu cara pun menuju ke tingkat lebih tinggi, menunjuk kearah Tuhan. Kadang terdapat keinginan untuk memberikan perbedaan skala, bangunan dibuat besar, membuat kita merasa kecil. Bagaimanapun caranya menterjemahkan sikap dan rasa berserah diri pada Tuhan tersebut pada esensinya bangunan gereja merupakan tempat umat beribadat kepada Tuhannya yang harus dapat mengakomodasi kebutuhan umat tanpa rasa segan.

Gereja Pohsarang benar-benar dirancang semata-mata untuk memenuhi kebutuhan umat yang ada di kediri saat itu. Dengan memanfaatkan semua potensi, tradisi, budaya lokal dan mencampurnya dengan teknologi baru tanpa menhilangkan nilai-nilai religi dan identitas gereja katolik. Arsitektur Pohsarang membawa semangat pembaruan dan persatuan. Menunjukan agama katolik sebagai agama yang terbuka dan memasyarakat. 

foto2nya menyusul :)

0 komentar:

Poskan Komentar