Menulis Impian

Katanya kalo punya impian itu sebaiknya ditulis karena akan membantu untuk fokus dan jadi motivasi. Sebenarnya dari waktu kecil saya terbiasa nulis impian. Pas SD sempat nulis mau masuk smp, sma sampe kuliah dimana, terus mau jadi apa (meski berubah-berubah), tiap caturwulan juga ditulis targetan jangka pendeknya. Jaman-jaman itu, jaman dimana yang dipikirin hanya sekolah, bebas lepas, urusan sekolah lancar maka hati pun senang. Simpel.

Setelah lulus kuliah mulai banyak impian-impian baru muncul, inspirasinya datang dari mana-mana. Tapi semakin lama semakin sadar kok kayanya semua itu hanya ambisi labil sesaat yang bukan dari dalam diri saya sendiri. Pengen jadi urban planner yang melanglangbuana, aktivitis di organisasi tertentu, anthropolog, dan masih banyak lagi. Semakin lama semakin sadar bahwa itu bukan impian saya. Tentu saya masih ingin memanfaatkan keilmuan yang didapat di bangku pendidikan formal, tapi bukan yang seperti itu. Setelah mencoba beberapa jenis pekerjaan, Saya semakin sadar bahwa saya selalu tertarik dengan hal-hal yang bersifat personal, skala kecil, mendesain rumah tinggal atau interior bener-bener saya nikmati prosesnya.

Akhirnya ujung-ujungnya kembali ke impian saya pas awal-awal kuliah. Saya ingin jadi arsitek/ desainer interior, hanya saja bekerja dari rumah sambil berbisnis membuat barang-barang penunjang interior. Bekerja di rumah tidak terkukung aturan-aturan kantor, bisa membuka sedikit lapangan pekerjaan baru, dan yang terpenting bisa mengatur waktu dengan fleksibel untuk keluarga. Mungkin saya bukan pendukung egaliter sejati. Wanita/ istri/ ibu tentu boleh bekerja, tapi tetap tugas pertamanya adalah menjaga wilayah domestik.

jadi teringat pas sehabis lulus sma rame-rame dengan teman ke acara pensi, disana ada bilik ramal. Semua diramal termasuk saya, pertanyaannya soal karir masa depan (galau menunggu kelulusan spmb). Pas giliran saya, dibilang kalau karir saya bagus tapi sebenarnya tidak akan jadi prioritas nomor satu bagi saya, Saya akan lebih memprioritaskan urusan keluarga ketimbang karir nantinya, walaupun ga sepenuhnya ibu rumah tangga karena masih akan tetap bekerja. Glek hampir keselek tidak percaya dan semua teman tertawa mengejek anita si ibu rumah tangga. Percaya tidak percaya namanya juga ramalan pensi, tentu saat itu saya sangat tidak setuju hahaha ;)))

Ramalan ini jadi teringat lagi setelah memikirkan mau kerja seperti apa nantinya. Pertimbangan kenapa memilih pekerjaan sekarang pun ternyata tanpa disadari karena itu. Saat itu ada dua tawaran pekerjaan dan saya memilih pekerjaan ini dengan pertimbangan pekerjaan ini akan lebih cocok untuk ibu rumah tangga ketimbang di perusahaan asing sebagai manajer proyek yang akan penuh dengan lembur, sering keluar kota, dan yang paling utama: bener-bener ditengah kota! walaupun secara pendapatan akan lebih besar. Setelah dipikir-pikir lagi, agak aneh juga, menikah saja belum, jangan-jangan ramalan pensi itu ada benarnya. Kyaaaaaaaa!!

Materi itu perlu dan memang ga bisa ditawar. Ini jadi tantangan baru juga untuk bagaimana tetap bisa menghasilkan dari rumah. Belajar investasi. Belajar berbisnis. Nabung. Masih banyak pr dan kerja keras untuk bisa seperti ini. Rumahnya pun dimana masih buram, tapi yang pasti sih ga ditengah kota, apalagi dalam cluster! Saya yakin pasti bisa jika saya mulai step by step dari sekarang dan konsisten. Semoga semuanya berjalan lancar. Namaste!

0 komentar:

Poskan Komentar