Pohon Kehidupan

The Tree of Life
Film The Tree of Life ini merupakan salah satu film yang berhasil memberi saya banyak kejutan. Tidak seperti film lainnya, film ini sedikit absurd dengan plot yang tidak biasa, menggambarkan kehidupan sebuah keluarga muda di suburban Amerika yang dicampur dengan fenomena yang terjadi di alam semesta. Plot-nya terus bolak balik antara pengertian kosmik secara harfiah dan kehidupan keluarga ini-yang pada akhirnya menjadi fokus dari film ini.

Salah satu scene yang paling membuat saya termenung adalah pertemuan lava dan gelombang laut. Penggambaran yang cocok bahwa ‘nature’ dan ‘grace’ datang bersama-sama, dan menghasilkan sesuatu yang indah.

“kita harus memilih antara jalan ‘nature’ dan ‘grace'", begitulah salah satu narasi dari pembukaan film ini.

‘Nature’ itu acuh tak acuh, terus berjalan seperti apa yang dikehendakinya, berlandaskan kepuasan pribadi, menciptakan-menghancurkan, tanpa rasa lebih dalam nilai. Sang ayah digambarkan sebagai perwujudan dari prinsip 'nature'. Dia pada dasarnya baik, mencintai anak-anaknya, disiplin, bersemangat, dan ingin membuat anak-anaknya tangguh dan mandiri, namun sayangnya cendrung memaksakan kehendaknya sendiri. Lingkungan sekitarnya harus menjadi seperti apa yang dia inginkan. 

Sedangkan 'Grace' berarti kemurahan hati, pengampunan, suatu bentuk kekuatan batin yang dapat menerima penderitaan. Ada banyak cara untuk menggambarkan itu tapi semua berlabuh dalam keberadaan kita, kemanusiaan kita. Naratif kosmik digambarkan dengan dinasaurus jinak pemakan tumbuhan yang bergerak dengan anggun, bunga, rerumputan, sinar mentari. Dalam film digambarkan bahwa ‘grace’ adalah kebaikan. Sang ibu digambarkan sebagai perwujudan dari prinsip 'grace'.

kita harus memilih antara jalan ‘nature’ dan ‘grace'.

Kita terjebak ditengah perebutan kekuasaan ini. Berusaha memahami keberadaan singkat ini. Lalu terjadilah sebuah peristiwa. Sebuah kematian/ kehilangan yang tiba-tiba, ternyata dapat menggugat keyakinan dan ketulusan seorang ibu yang merupakan perwujudan dari ‘grace’ yang sejatinya tidak mengenal rasa kecewa.

Why? -Mrs. O'Brien (The Tree of Life)
Mungkin sebenarnya kita tidak perlu memilih antara ‘grace’ dan ‘nature’. Ada jalan tengah dimana kita dapat menemukan ‘grace’ pada ‘nature’, tidak hanya melihat ‘grace’ sebagai suatu keindahan absolut karena sebenarnya manusia tidak mungkin menghilangkan 'nature' karena memiliki hasrat dan keinginan. Pun tidak akan pernah bahagia jika hanya berpegang pada prinsip 'nature', karena banyak hal yang tidak dapat kita kontrol seberapapun kita berusaha.

Everything is determined, the beginning as well as the end, by forces over which we have no control. It is determined for insects as well as for the stars. Human beings, vegetables or cosmic dust; we all dance to a mysterious tune, intoned in the distance. -Albert Einstein 
Takdir tidak dapat dikontrol dan tidak ada yang tahu bagaimana formulanya. Satu-satunya yang bisa diyakini adalah segalanya berjalan seimbang. Hal-hal yang baik akan datang sebanyak hal-hal yang buruk.

Yang dapat dilakukan adalah melihat ‘grace’ dalam hubungan yang lebih mendalam. Apa yang terjadi terhadap sosok ayah secara kiasan sebelum kematian anaknya, adalah keterasingannya dari makna ‘grace’ itu, yaitu tidak dapat terhubung secara mendalam dengan apa yang terjadi disekitar. Sebaliknya, dia hanya bisa terhubung dengan mimpi-mimpinya yang hilang,  misalnya digambarkan dalam obsesinya untuk menyalurkan anak-anaknya dalam bermusik. Dia terjebak dalam kebenaran yang dianutnya yang membuahkan tuntutan.

Sometimes people hold a core belief that is very strong. When they are presented with evidence that works against that belief, the new evidence cannot be accepted. It would create a feeling that is extremely uncomfortable, called cognitive dissonance. And because it is so important to protect the core belief, they will rationalize, ignore and even deny anything that doesn't fit in with the core belief. -Frantz Fanon
Dari sekian banyak pesan dalam film ini, salah satu yang akan bertahan adalah bahwa ‘nature’ dan ‘grace’ ada pada setiap masing-masing diri kita. ‘grace’ dan ‘nature’ tidak berperang satu sama lain, tetapi mereka adalah satu dan sama: kreasi dari ribuan tahun sejarah kosmik yang menghasilkan keindahan di dunia ini.

Semoga saya bisa menggunakan prinsip 'nature' untuk bisa survive, dan menggunakan prinsip 'grace' dalam melihat setiap peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup saya. Kebaikan dan keburukan terjadi secara seimbang. Namun, keburukan pun dapat menjadi kebaikan, jika kita mau melihat dari perspektif yang berbeda, dan yang tersisa hanyalah rasa syukur dan pembebasan.
Kita tidak bisa mengontrol Kehidupan, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita melihat kehidupan
Mungkin inilah yang disebut berubah dari 'physical being' yang terikat pada keseimbangan baik-buruk, menjadi 'spiritual being' yang tidak terikat pada keseimbangan baik-buruk dalam dunia fisik. di dunia spiritual kita dapat hanya memilih baik. Tidak perlu keseimbangan untuk mengADA.

Pemahaman ini akan melepaskan diri dari tuntutan terhadap lingkungan untuk membuat diri merasa baik, utuh, dan bahagia. Free from demand of others and the environtment. Memahami bahwa pada dasarnya kedamaian, kebahagiaan, dan kasih sudah ada pada masing-masing diri karena kita sebagai spiritual being memilih untuk itu, terlepas dari apapun yang terjadi di dunia fisik.


Setelah memahami ini barulah kita dapat memberikan kedamaian, kebahagiaan, dan kasih kepada orang lain dengan benar-benar tulus karena terlepas dari tuntutan.
Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light. Forgive. -Mrs. O'Brien (The Tree of Life)
Mungkin ketulusan adalah ujian sebenarnya dalam kehidupan dan the tree of life di taman eden (dalam kristen)/ jannatul adnin (dalam islam) adalah simbolnya...? spiritual being terlepas dari keseimbangan baik-buruk, penciptaan-penghancuran, keabadian! Sayangnya menusia yang diwakili adam dan hawa memilih untuk memakan buah yang satunya lagi di taman itu, yaitu buah pengetahuan (baik dan buruk) dan kita memilih untuk menderita mencari kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada pada diri kita. Seyem, tapi itulah manusia, hehe..

Banyak kata mungkinnya,, karena merasa sotoy tapi yaudahlahya :D.. fiuh cape juga ternyata nonton film ini tapi puas. Recommended dan sebaiknya nonton sambil makan cokelat biar ga pusing hehe.. 8 dari 10 bintang deh! sekarang waktunya bersantai dengerin musik sambil ngeteh :D

0 komentar:

Poskan Komentar