brand irony

menurut saya media komunikasi baik iklan, papan-papan reklame, poster, maupun pamflet-pamflet punya sisi menarik tersendiri. Sehingga saya senang mengumpulkan dan menyusunnya di softboard kamar. Banyak yang menurut saya menarik terutama yang diluar imajinasi kebanyakan orang, seperti pada ‘brand irony’.

Kenapa ‘brand irony’ menurut saya menarik? Karena kreatifitas, gagasan, imajinasi tidak selalu bergaris lurus. Semua ibarat goresan kuas yang acap tidak jelas dari mana awalnya dan di mana akhirnya. ‘brand irony’ seringkali mengejutkan. Dan memang bisnis membutuhkan kejutan bukan? Hehe..

ironi sendiri bermakna: adanya keganjilan, aneh dan bahkan tidak pantas antara apa yang sedang dikatakan atau seorang penulis uraikan dan apa yang dimengerti audiens dan pembaca. Ironi acapkali berkaitan dengan peristiwa dan quote tertentu. Apa yang diharapkan adalah adanya kesenjangan, keanehan, keganjilan bahkan ketidakpantasan antara apa yang kita pahami dan apa yang sesungguhnya terjadi.



Seorang pengemis memegang tong kecil berbahan seng . Sang pengemis meminta untuk mendapatkan nasabah yang dapat menggunakan master card. Dalam hal ini ironi adalah ungkapan atau ucapan yang menerima dalil ganda. Yaitu suatu kelompok yang mendengar namun tidak akan memahami, dan yang kedua yang mendengar dan memahami maknanya .

Ironi berasal dari kata Yunani dari kata eironeia yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan yang dibuat-buat (feigned ignorance). Teknik ini sering digunakan oleh salahsatu filsuf besar Yunani yaitu Socrates. Socartes menyemai kata Yunani eiron, yang tidak lain adalah seseorang yang membuat pertanyaan-pertanyaan dungu atau sekurang-kurangnya dianggap naif.

irony mensyaratkan suatu latar belakang budaya karena brand irony umumnya menggunakan keragaman budaya . Namun karena idiom-idiom khusus budaya, ironi seringkali tidak sempurna ditransplantasi, karena itu idiom yang dipakai di pantai barat Amerika bisa saja berbeda dengan idiom bahas inggris. Akibatnya idiom ironi selalu dikaitkan dengan kekhasan budaya setempat.

Misalkan contoh-contoh dari iklan ‘brand irony’ yang ada di India ini. Dengan latar belakang kondisi masyarakat dan budayanya, jika saya menjadi warga India yang ada pada kondisi tersebut mungkin saya tidak akan menganggap hal tersebut sebagai suatu keganjilan atau suatu ironi. Bagaimana dengan kamu, apa yang kamu tangkap dari iklan-iklan poster tersebut?

0 komentar:

Poskan Komentar