Bandungku sayang Bandungku malang

Karena saya orang Bandung asli, rasanya sedih melihat perubahan bentuk kota bandung yang menjadi semakin tidak jelas, kesemrawutan dan ketidakaturan yang ada selalu dijawab dengan kebutuhan perkembangan kota. Padahal jika dilihat dari data perbandingan antara tingkat pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan masyarakat Bandung (sb. lab rancang kota planologi) ternyata perkembangan kota tidak meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Ini mengartikan bahwa yang menikmati perkembangan kota bandung bukan warga kota bandung, dan yang mandapatkan keuntungan signifikan dari perkembangan kota bandungpun bukan orang Bandung. Lihat saja para pengembang raksasa yang berinvestasi di kota tercinta ini yang kebanyakan berasal dari ibukota. Memang dengan berkembangnya Bandung dapat ikut ‘mengenerate’ perekonomian warga, namun apakah itu sebanding dengan dampak esternalitas yang didapat oleh masyarakat Bandung terutama mengenai dampak lingkungan.

Bandung riwayatmu doeloe
Dari banyak catatan dan cerita sejarah, kita bisa mengapresiasi betapa indahnya Kota Bandung tempo doeloe. Inilah kisah sebuah kota yang konon dulunya begitu teratur dan nyaman, yang terletak dalam dasar "cawan" yang dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan. Inilah kota yang dulunya menawarkan lingkungan alam yang sangat indah lebih dari kebanyakan kota lainnya di Indonesia. Lebih dari itu, inilah sebuah kota yang udaranya relatif sejuk karena terletak dalam dataran cukup tinggi (sekitar 630m di atas permukaan air laut), banyaknya taman-taman kota, dan pohon-pohon yang tinggi nan besar di sepanjang jalan-jalan kota.


Berawal dari hutan lebat yang menjadi tempat buangan orang-orang yang terhukum oleh pemerintah Belanda, tak lama kemudian ia segera berubah menjadi sebuah kota dimana sejarah mencatatnya sebagai tempat yang memiliki segudang daya tarik. Cerita tentang orang-orang Belanda terhukum yang dibuang itu konon bukannya sengsara, tetapi malah seakan menemukan surga dengan membuka lahan berkebun, usaha penggergajian kayu, dll. Sehingga, daerah yang awalnya hanya berpenduduk tak lebih dari 25-30 orang pada tahun 1641, tak lama kemudian menjadilah sebuah kota sebagai tempat peristirahatan orang-orang Belanda. Oleh orang-orang Belanda itu, kota ini lalu dibangun mengacu pada perencanaan kota-kota di Eropa khususnya kota-kota di negeri Belanda namun dengan nuansa tropis.

Sejarah mencatat adanya perkembangan penting di sekitar tahun 1810, yakni ketika Gubernur-Jenderal Hermann W. Daendels menancapkan sebuah tongkat di suatu titik (Kilometer 0) di Jalan Raya Pos di kota Bandung. Hampir bersamaan dengan itu dipindahkanlah pula pusat ibukota Bandung yang lama dari Karapyak ke kawasan Alun-alun sekarang oleh Bupati Raden Wiranatakusumah II atas perintah Gubernur- Jenderal. Namun demikian perkembangan yang paling menonjol dan dramatis adalah sejak pemerintah kolonial Belanda berencana memindahkan pusat pemerintahannya dari Batavia (Jakarta) ke Bandung pada tahun 1917.

Sejalan dengan rencana tersebut, maka semakin ramailah kaum pendatang dari banyak penjuru Nusantara serta imigran dari Eropa dan China. Pembangunan berbagai infrastruktur dan sarana kota segera intensif dilakukan. Selama dekade 1920 hingga 1930-an tercatat begitu banyak bangunan monumental yang dibangun dan telah menjadi ciri dan identitas kota Bandung hingga kini seperti bangunan Department Verkeer en Waterstaat atau kini dikenal Gedong Sate sebagai pusat pemerintahan nasional, dan bangunan Aula Barat dan Timur Kampus ITB serta master plan kampus untuk cikal bakal sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia. Selain itu dibangun pula gedung-gedung lainnya yang tak kalah menarik yang menjadi identitas kota seperti Villa Isola, Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger, Gedung Merdeka, dll.

Pada sekitar dekade tersebut, rupanya para arsitek Belanda telah merancang dan membangun banyak gedung yang sangat menarik hingga menempatkan Bandung pada urutan 9 dari 10 kota dengan arsitektur Art Deco terbanyak di dunia, satu tingkat di atas Kota Paris (GlobeTrotter, 2001). Itulah di antara aset-aset paling berharga yang menjadi ciri dan identitas Kota Bandung. Wajarlah jika Kota Bandung tempo doeloe juga dikenal dengan sebutan legendarisnya Parijs van Java.

Selain bangunan, rancangan ruang-ruang terbuka hijau kota juga telah ikut membentuk identitas Kota Bandung tempo doeloe di mana terdapat banyaknya taman, lapangan dan ruang terbuka kota yang menghiasinya. Tampaknya konsep membangun kota taman (garden city) yang digagas oleh Sir Thomas More pada tahun 1516 hendak diwujudkan oleh para perencana Kota Bandung pada waktu itu (Haryoto Kunto, 1986). Tak heran jika Kota Bandung tempo doeloe dengan penataan alam, taman dan lingkungannya seperti itu juga mendapatkan julukan dan pujian sebagai Kota Kembang.

Gambaran-gambaran keindahan dan kenyamanan Kota Bandung tempo doeloe sudah cukup banyak ditulis dalam buku-buku karangan kuncen Bandung alm. Haryoto Kunto seperti Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984), Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), Ramadhan di Priangan (1996), dll. Di samping itu, banyak pula foto dan lukisan tua sebagai bukti visual paling otentik yang dapat kita temukan yang menggambarkan suasana keindahan dan kenyamanan itu.

Selain gambar-gambar dan lukisan-lukisan tua tersebut, banyak pula gubahan lagu tentang Bandung yang seakan ingin ikut menjadi saksi keindahannya yang dapat memperkuat imaji kita bahwa Kota Bandung tempo doeloe adalah "Surga Tatar Sunda". Rupanya pesona kota ini telah banyak mengilhami para pencipta lagu seperti Ismail Marzuki dalam Sapu Tangan dari Bandung Selatan, Iwan Abdurrachman pada Senja Jatuh di Bandung Utara, Flamboyan, atau Melati dari Jaya Giri, serta Tetty Kadi dengan Kota Kembang-nya, dll.



Demikianlah kisah wajah Kota Bandung "tempo doeloe", begitu dipuja dan didamba hingga mengilhami banyak karya lagu. Namun kini, kisah itu seperti sekadar cerita-cerita masa lalu atau dongengan-dongengan masa silam, seiring dengan terkikisnya keindahan dan kenyamanan itu. Kini, banyaknya pujian masa lalu itu seakan telah menjadi tema mimpi di siang hari.

Bandung nasibmu kini

Rupanya dinamika perubahan di kota ini telah tumbuh dan bergerak sangat cepat. Kota Bandung yang luasnya sekitar 16.730 hektar ini dulunya dirancang sebagai kota taman dan peristirahatan untuk sekitar 250.000 penduduk, namun dari sensus tahun 2001 saja penduduk kota Bandung sudah mencapai 2.141.847 orang. Padahal seiring dengan pertambahan jumlah penduduk kota, maka kebutuhan sarana pelayanan dan infrastruktur kota sudah menjadi kemestian, dari mulai kebutuhan lahan dan bangunan-bangunan baru, jalan-jalan dan sarana transportasi, infrastuktur sanitasi dan sampah, dan lain sebagainya.

Namun sungguh disayangkan, dinamika perubahan yang cepat itu tampaknya kurang diimbangi dengan perencanaan dan pengelolaan kota secara maksimal dan profesional. Ini dibuktikan dengan belum adanya konsep menata kota yang utuh, integral, bervisi jauh ke depan (misalnya 25-50 th ke depan). Bandingkan dengan kota lain di dunia seperti Kota Melbourne yang memiliki visi 2030 yang menggagas kota kompak ( A more compact city) dengan guideline dan kebijakan yang menyeluruh khususnya masalah konsentrasi pembangunan pusat-pusat kota dan penyediaan infrastruktur transportasi masal.

Penyelesaian masalah demi masalah masih sering terlihat dilakukan secara sporadis, setempat, berjangka pendek dan kurang mempertimbangkan adanya persoalan kota lainnya. Proyek-proyek jalan layang, pelebaran jalan untuk menghindari kemacetan setempat, atau yang belum lama ini seperti rencana proyek jalan tol Dago-Lembang hanyalah contoh-contoh sederhana dari solusi-solusi pengambilan keputusan yang parsial tersebut.

Padahal, menyelesaikan problem kemacetan dengan cara memperlebar jalan, membuat jalan layang hingga jalan tol seperti itu adalah ibarat memperbesar/memperlebar pakaian bagi tubuh yang makin gemuk, sementara persoalan tubuh yang makin gemuk itu sendiri tidak pernah diantisipasi dan diselesaikan. Dengan cara begitu, kemacetan memang mungkin akan berkurang sejenak tetapi tidak lama lagi dipastikan akan muncul kembali seiring dengan semakin bertambah banyaknya kendaraan umum dan/atau kendaraan pribadi.

Selain dari itu, bila dicermati keputusan-keputusan pembangunan ruang-ruang kota juga sering terlihat lebih banyak ditentukan oleh para pemilik modal. Tampaknya perhatian pemerintah masih terlalu sibuk mengurusi pendapatan daerah sehingga mengabaikan pentingnya rencana pembangunan kota yang meliputi penataan ruang kota dan pengelolaannya. Oleh karena itu, sebuah kenyataan pahit yang kini semuanya sudah mafhum bahwa kota ini hari demi hari bukan sekadar tidak indah lagi tetapi semakin tambah semrawut, semakin tidak nyaman, dan bahkan telah mengancam kemanusiaan serta masa depan penduduk kota itu sendiri.

Telah begitu banyak masalah yang dihadapi kota Bandung saat ini, beberapa di antaranya: pertama, masalah kemacetan yang luar biasa, di mana paling sedikit terdapat 30-40 titik-titik kemacetan. Saking banyaknya kemacetan ini, sampai-sampai sudah muncul opini yang pejoratif Bandung Lautan Macet. Menurut Pakar transportasi dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung Prof Dr Ir Kusbiantoro, Bandung memang tergolong kota paling macet jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Indonesia.

Kedua, masalah sanitasi yang buruk dan sampah yang menggunung. Peristiwa paling tragis yan terjadi belum lama ini adalah banyaknya penduduk yang mati akibat tertimbun longsoran sampahnya manusia itu sendiri. Sejak peristiwa itu, muncul pula opini lain yang tak kalah buruknya Bandung Lautan Sampah.

Ketiga, masalah polusi udara yang sudah melewati ambang batas, yang mengakibatkan udara menjadi panas dan tidak sejuk lagi. Menurut banyak pakar lingkungan, hal ini makin diperparah karena Kota Bandung berada dalam kondisi cekungan yang menjadikan pada malam hari partikel polutan mengendap ke bawah, sementara pada siang hari menguap tapi tidak seluruhnya terangkat.

Keempat, masalah kaki lima yang semakin hari semakin bertambah banyak dan tidak mudah pengaturannya. Meski demikian, perlu disadari bahwa mereka juga warga kota yang punya haknya terhadap kota. Pembangunan kota sudah semestinya tidak boleh mengaleniasi kota dengan warganya.

Kelima, masalah bangunan-bangunan tua yang rusak, tak terawat, dan makin banyak yang hilang. Hal ini sungguh disayangkan, karena berarti juga hilangnya aset-aset berharga yang menjadi identitas kota.


Dan masih banyak lagi masalah-masalah itu yang jika didaftar maka bisa berpuluh-puluh masalah yang semuanya terkait satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu perlu segera dilakukan langkah-langkah yang strategis, profesional dan cerdas untuk mengatasi banyaknya masalah ini, jangan sampai berkembang opini baru: Bandung Lautan Masalah.


"Grand Design" Sebagai Solusi Integral


Kota adalah akumulasi produk pengambilan keputusan dari banyak pihak dalam berbagai kurun waktu. Jika proses-proses pengambilan keputusan itu tidak berpedoman pada satu acuan yang jelas dan utuh, maka aneka keputusan dari banyak pihak itu akan berjalan sendiri-sendiri. Akibat yang sering terjadi adalah pada saat satu keputusan telah dibuat dan dijalankan ternyata justru memproduksi masalah baru atau menyeret masalah lainnya menjadi semakin parah dan rumit untuk ditangani.

Persoalan-persoalan Kota Bandung jelas sudah tidak bisa lagi diselesaikan dengan gagasan-gagasan atau proyek-proyek parsial, sporadis, dan tambal sulam yang hanya untuk menjawab kebutuhan jangka pendek. Karena kota ini sudah sangat jauh berkembang dan berubah dari konsep awalnya pada waktu dibangun oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di abad ke-19 dulu. Lagi pula masalah-masalah kota itu akan selalu terkait satu sama lain, saling jalin-menjalin bak benang berkelindan.

Oleh karenanya, perencanaan kota ini memerlukan visi, konsep dan gagasan utuh yang menerobos jauh ke masa depan dan nantinya secara konsisten harus dipegang teguh. Perlu segera dibuat sebuah "Grand Design" penataan baru Kota Bandung yang integral/menyeluruh dan berwawasan jauh kedepan misalnya untuk 25-50 tahun yang akan datang. Sudah sangat banyak pakar berikut institusinya di kota ini, dari sejarahwan, seniman-budayawan, arsitek, desainer, perencana kota, pakar pengembangan wilayah, pakar transportasi, ahli lingkungan, kalangan LSM seperti Bandung Heritage, pecinta Bandung, dan lain-lain. Mereka semua perlu dilibatkan untuk mendapat solusi yang menyeluruh.

Namun demikian, mengharap perencanaan dan perbaikan kota secara menyeluruh kepada pemerintah kota saat ini, ibarat menggerakkan sebuah gunung. Maka inisiatif itu tampaknya hanya bisa diharapkan dari kelompok-kelompok kecil yang memiliki komitmen dengan agenda besar seperti ini, berharap semoga muncul satu kelompok atau LSM yang dengan tulus menjadi pionir penggerak gagasan grand design ini, dan secara konsisten memperjuangkannya sekaligus mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. Yuk dimulai..



0 komentar:

Poskan Komentar