Lagi lagi tentang Bandung

Bandung yang memiliki slogan kota wisata merupakan gudang dari bangunan heritage terutama yang bergaya art deco. Dengan perkembangan kota yang tidak terencana dengan baik, potensi dari bangunan-bangunan heritage yang seharusnya dapat memberi nilai lebih kepada kota menjadi menjadi semakin terkikis, lihat saja kota Roma, bangunan bersejarah yang dijaga dengan baik (bahkan memindahkan sebuah batu kecil sisa robohan bangunan heritagepun sangat dilarang), hal ini menjadikan Roma menjadi kota yang bernilai tinggi dan memiliki potensi wisata yang tidak didapatkan di tempat lain. Tak heran manusia dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong ketempat ini setiap tahunnya. Pemerintah dan masyarakat dapat mendapatkan keuntungan tanpa harus bunuh diri secara perlahan dengan mengorbankan sejarah dan lingkungan. Itulah kota wisata sebenarnya.

Jika kalian termasuk orang yang hampir selalu memiliki rute yang sama tiap kali pergi keluar, maka sebenarnya rugilah kalian. Bandung, kota tempat kita tinggal, menyimpan banyak kenangan yang terlukiskan oleh bangunan-bangunan peninggalannya dan bahkan sempat mendapat julukan laboratorium arsitektur yang terlengkap, karena kota ini memiliki begitu banyak kekayaan arsitektur yang kini banyak dijadikan inspirasi serta bahan penelitian.

Mengapa objek arsitektur menjadi begitu penting? Coba ingat kembali, jika kalian berlibur, objek apa yang kalian datangi? Selain objek wisata alam, sebagian besar yang kalian kunjungi adalah objek arsitektur. Museum, kota, bangunan bersejarah, landmark, bahkan pertokoan. Sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya, apa yang membuat Bandung begitu pesat perkembangannya dalam bidang arsitektur hingga bermacam gaya dapat ditemukan di sini.

Tepatnya tahun 1913, seorang ahli kesehatan masyarakat yang bermukim di Semarang, H.F. Tillema memaparkan sebuah makalah yang mengangkat permasalahan tentang buruknya penataan sanitasi di kota-kota pantai di Indonesia. Selain itu, ia juga beranggapan bahwa iklim di kota-kota tersebut (Batavia, Semarang, dan Surabaya) dirasa kurang cocok bagi penduduk dari Eropa, bahkan dianggap membahayakan kesehatan.

Sejak saat itu, bergulirlah wacana untuk memindahkan ibu kota dari Batavia ke Bandung, kota kecil di pegunungan Priangan yang iklimnya lebih cocok bagi orang Eropa, didukung oleh pertimbangan lain yaitu rawannya kota pantai terhadap serangan musuh.

Maka dimulailah pembangunan sarana fisik secara besar-besaran. Lebih dari 70 arsitek yang sebagian besar telah mengecap pendidikan di Technische Hoogeschool Delft datang ke Bandung atas undangan pemerintah hindia Belanda. Tujuh ratus lima puluh bangunan modern fungsional bergaya kolonial berhasil didirikan untuk mewadahi aktivitas di calon ibukota baru tersebut. Kebanyakan para arsitek tersebut merancang bangunannya dengan gaya yang sedang diminati di Eropa, seperti Art Nouveau dan Art Deco yang lebih fungsional . Akibatnya, wajah kota Bandung kala itu menyerupai wajah Eropa, yang sekarang masih tersisa di pertokoan Jalan Braga dan sekitarnya.

Tahun 1923, seorang arsitek senior kenamaan Belanda, mengkritik keras kebiasaan membangun bangunan dengan gaya Eropa asli tanpa beradaptasi dengan budaya dan iklim lokal. Ia mengemukakan pentingnya pencarian sebuah arsitektur asli yang merupakan sintesa dari kebudayaan Indonesia dan teknologi konstruksi barat. Pernyataan arsitek tersebut membuat perubahan pada desain-desain bangunan selanjutnya. Aula ITB karya Maclaine Point adalah sebuah contoh sukses perkawinan antara teknologi modern dan budaya tradisional.

Selain sejarah perkembangan arsitektur, bangunan-bangunan kolonial di Bandung juga kaya akan sejarah perjuangan bangsa khususnya dari zaman pergerakan kemerdekaan. Gedung Landraad di jalan Perintis Kemerdekaan misalnya, menjadi saksi pidato pembelaan Sukarno yang legendaris dan menggemparkan di depan pengadilan kolonial ,’Indonesia Menggugat’. Sebuah pidato yang ditulis di atas kloset dalam selnya yang sempit di penjara Banceuy, yang saat ini hanya tersisa sepenggal, tertelan pembangunan kawasan perbelanjaan.

Perkembangan sebuah kota memang tidak mungkin dihindari. Tetapi pembangunan kota yang kental dengan nuansa ekonomi tidak selamanya selaras berkompromi dengan aspek budaya. Bangunan-bangunan kuno seperti yang banyak terlihat menghiasi daerah Dago dan Jalan Asia Afrika membutuhkan ongkos pemeliharaan yang tinggi, yang tentu saja jika dilihat dari pertimbangan finansial semata akan tampak kurang efisien. Akibatnya, jika tidak dirobohkan, pemilik bangunan akan lebih memilih untuk menelantarkannya. Sehingga saksi bisu perkembangan kota tersebut menjadi semakin sedikit jumlahnya...

Jadi mulai sekarang, sadari bahwa di sekitar kalian berdiri dengan tegar sosok-sosok yang sedang menantikan akhir dari nasibnya; berakhir dengan bahagia sebagai aset pariwisata yang menjanjikan atau sebaliknya, mengalah untuk hilang sama sekali dari muka bumi, yang mungkin suatu saat nanti palu penentunya berada di tangan kalian.

0 komentar:

Poskan Komentar