cucu wisnusarman dan mahasiswa asing


Salah satu cerita pandek yang menarik dan cukup menyentil yang saya baca di buku berjudul ‘Cucu Wisnusarman’ karangan Parakitri T.Simbolon, buku ini berisi kumpulan kolom yang diterbitkan harian kompas dalam kurun waktu 1979-1984 dan pertengahan 1992.

Pada cerpen ini walaupun merupakan cerpen lama dan mungkin berbeda dengan kondisi sekarang dimana NKKnya sudah berubah wujud namun poin yang ingin disampaikan masih relevan dengan kondisi saat ini dari yang saya liat di kehidupan kampus saya. Silakan maknai sendiri :)


Cucu Wisnusarman(CW) bertemu dengan seorang mahasiswa dari negara tetangga yang sudah lama menjalankan semacam Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK)

“banyakkah protes mahasiswa ketika NKK kalian hendak dijalankan? Tanya CW.

“samasekali tidak ada!”

“kalau begitu kalian samasekali sepakat dengan NKK?”

“samasekali tidak”

CW mendelik tidk mengerti.

“barangkali NKK kalian tidk seperti disini,” tanya CW dengan suatu pengharapan. Ia berharap NKK asing itu lebih baik.

“bagaimana disini?”

“surat keputusan yang berwenang bilang, NKK bertujuan membawa kembali mahasiswa ke kepribadiannya yang hakiki, yaitu ‘manusia penganalisa’. “

“manusia penganalisa? di negara sayapun persis begitu, terus?”

“agar bisa sampai kesana, badan keluarga mahasiswa harus memenuhi kebutuhan utama mahasiswa. Itulah ‘student welfare, student interest’, dan ‘student ideas and reasoning’.”

“pakai bahsa inggris segala, tidaklah kalian punya cukup kata untuk itu?”

“ memang bahasa nasional kami cukup mampu juga mengatakan hal-hal yang demikian, tapi pemerintah kami merasa lebih enak kalau memakai bahasa inggris. Mungkin lebih bagus juga dirasanya.”

“kamu menyindir atau sungguhan? Kabarnya kamu cukup fanatik mendukung pemerintahmu.”

“saya tidak menyindir. Pantas dong kalo orang seperti saya mendukung pemerintah saya. Kamu tahu pemerintah saya sedang berusaha keras melakukan pembangunan, modernisasi. Modernisasi tanpa bahasa inggris tidak pantas kan? Jadi saya sunguh-sungguh, tidak menyindir.”

“lantas bagaimana katanya perkumpulan mahasiswa dapat melakukan tugas tersebut?”

“di tingkat universitas, fakultas dan jurusan, perkumpulan tidak lagi dipimpin oleh mahasiswa, tapi oleh pemimpin universitas, fakultas dan jurusan. Di bawah kekuasaan merekaitu para mahasiswa boleh membentuk unit-unit kegiatan, seperti diskusi ilmiah, pers, olahraga, budaya dan sejenisnya. Semua itu diawasi tentu saja.”

“kalau begitu NKK kalian persis sama seperti di negeri saya”

Lagi-lagi CW mendelik heran. “lantas bagaimana kalian sampai tidak protes samasekali?”

“protes? Untuk apa?”

“bagaimana untuk apa. Tidaklah kamu sadar, struktur seperti itu akan menhambat kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa?”

“kebutuhan macam apa itu?”

“hhmm,” CW merasa jengkel. “tidaklah kamu sadar, jadinya mahasiswa tidk bisa lagi atau kalaupun bisa tak punya waktu lagi melakukan kegiatan selain akademis, olahraga dan berkesinian yang diawasi, seperti misalnya protes atas ketidakadilan dan penyelewengan”

“protes seperti itu ditujukan untuk siapa?”

“yah terhadap pemerintah tentunya”

“buat apa pemerintah diprotes?”

“hah? Buat apa katamu? CW berubah dari jengkel ke amarah. “tidakkah mahasiswa memerlukan cara untuk menunjuka kepedulian, kebanggaan dan rsa berharga?”

“misalkan itu betul, apa hubungannya dengan protes?”

“aduh bukankah dengan protes mahasiswa mungkin ditangkap dan dengan ditangkap mahasiswa menjadi penting? Dan dengan begitu setelah terjun ke masyarakat menjadi terkenal dan disegani?

“lantas untuk apa itu semua?”

“ya Tuhan, masa kamu tidk tahu?” dari amarah CW berubah menjadi perasaan kasihan. “bukankah dengan harga diri semacam itu dapat menaikan harga penawaran si mahasiswa? Tidakkah kamu tahu harga itu bisa semahal mobil yang dapat dijadikan taksi, semahal imbalan seorng pendamping dan penasihat pejabat?”

“hah” ujar mahasisa asing itu tertawa. “itu mungkin perlu buat mereka yang tidak menyenangi pemerintah, tapi apa gunanya bagi orang seperti kamu yang menyenangi pemerintah?”

“bodoh amat orang ini,” kata CW dalam hati. Kepada mahasiswa sing itu ia bilang lebih lanjut. “apa kakmu tidak sadar bahwa pemerintah takkan memerlukan pendukung seperti saya kalau tidak ada yang memrotes? Lagi pula, bukankah pemerintah sendiri memerlukan protes , asal tidak sampai berbahaya?”

“Untuk apa pemerintah memerlukan itu?”

“yah untuk memberi kesan bahwa pemerintah itu mau mendengarkan kritik. Untuk memeberi kesan bahwa mereka telah berbakti. Bukankah hal-hal begini penting dalam politik?”

Tamu dari negara tetangga itu tertawa sampai terkekeh-kekeh

“tertawalah sampai puas,” ejek CW terang-terangan. “saya rasa soalnya adalah kamu tidak mampu protes karena tidak sadar makna ‘manusia penganalisa’.”

“persis,” sahut mahasiswa asing itu. “kendati kami menerima NKK, kami tidak percaya hakikat ‘manusia penganalisa’, itulah sebabnya kami tidak protes.”

“kok malah bisa begitu?”

“manusia pengenalisa memang berguna jadi pekerja yang patuh di kantor-kantor, pabrik dan laboratorium. Mahasiswa yang mau begitu tentu tidak memrotes NKK. Buat mereka itu bagus. Tepat. Sebaliknya, bagi mahasiswa yang tidak ingin jadi ‘manusia penganalisa’, jadi pahlawan dan tokoh pun sama tidak menariknya. Lantas buat apa mereka protes?”

“kalau begitu mereka mengerjakan apa di Universitas? CW mengejar terus

‘mereka belajar. Tekun belajar seperti mereka yang ingin menjadi ‘manusia penganalisa’. Mereka memerlukan ketenangan untuk belajar.”

"sama tekun belajar? Terus apa bedanya dong?”

"bedanya mereka tak ingin jadi ‘manusia penganalisa’ memperdalam pengetahuan mereka atas perikehidupan bangsa, bangsa, semua, yang miskin, yang kaya, yang dikuasai maupun yang berkuasa.”

“buat apa?” tanya CW, kini mulai ada titik terang dalam cara berpikir tamunya.

“bukan buat apa-apa, tapi kenapa. Itulah hakikat manusia, termasuk mahasiswa, adalah memahami dunia sekelilingnya, alam maupun manusia, bukan ‘penganalisa’.”

“berbedakah itu?”

“sangat berbeda. Bayangkanlah beda antara mesin dan manusia. Mesin ampuh menganalisa, tapi hanya manusia yang mampu memahami. Nah pemahaman mereka itu beredar di antara mereka saja. Mereka jadi manusia yang lebih matangkarena mengerti masalah bangsanya. Itulah sebabnya mereka tak ubahnya seperti perkumpulan rahasia.”

“kok rahasia?” CW penasaran

“rahasia karena tak ketahuan secara luas karena tidak main dengan protes, tapi tekun belajar. Ketika kesempatan tiba, mereka memainkan peranan. Pernah dengar nama Ko Lao Huei? Ia dan mahasiswa lain hidup di bawah suasana mirip NKK. Merekalah yang melahirkan Tiongkok meredak dari kekuasaan dinasti Tsing. Pernah dengar nama Chai E? Ia menjadi jendral yang berhasil mengelabui pemerintah tsing dengan membawa kabur ribuan taruna militer. Pernah dengar Zhu De, pendiri tentara merah? Mereka semua tiba-tiba mengambil peranan setelah bertahun-tahun belajar tekun. Mereka tak pernah protes, tapi belajar. Mereka tidak jadi penganalisa tapi memainkan peranan yang menentukan.”

0 komentar:

Poskan Komentar